Showing posts with label Cinta dan Remaja. Show all posts
Showing posts with label Cinta dan Remaja. Show all posts

Apa benar Allah SWT mengirimmu untuk menjadi kekasihku? menyertai langkah kakiku mengarungi arus nasib ke muara tuju. apa benar kau kasih tercintaku? jika memang kaulah perempuan itu, akan kurapatkan hatiku ke hatimu. tangan saling genggam. kaki sama langkah. bersamamu kusalin cerita ke dalam lagu nan syahdu.

Apa benar Allah SWT menciptamu sebagai pendampingku? akan kuhambakan diriku. kusujudkan keningku. kunapaskan namaMu.

kau yang begitu indah. perempuan anggun pengusir gundah. pengobat sepi penghibur lara. menarilah dalam jingkat perlahan. satu langkah satu langkah. lentik jarimu gemulai menjelma sayap burung enggang. aku mengikutimu sebagai naga langit terbang.

Apa benar Allah SWT membelahmu dari satu jiwaku? karena kulihat wajahmu terlihat wajahku. kulihat diriku terlihat dirimu. dari jiwaku yang satu.


kau ciptaanNya yang begitu indah. Yang membuat hati ini tak pernah letih.
Tak pernah letih untuk mencintai dan menyayangi
Menyayangimu kekasihku.

kau ciptaanNya yang begitu indah
tak mampu aku ungkapkan keindahanmu. Banyak kata yang tak mampu terucap akan keindahanmu.

Cinta dan sayangmu yang tulus, membuat iman ini menggebu. Iman kepada Yang Maha Kuasa.
Bersyukur aku memiliki cinta dan sayang darimu, engkau ciptaanNya yang begitu indah.
kau begiu sempurna untukku.

kau ciptaanNya yang begitu indah, senantiasa aku berdoa agar kita bisa menjadi satu.
dalam satu keutuhan cinta dan sayang. Betapa Allah SWT menciptakanmu begitu indah.

kau cipataanNya yang begitu indah, selalu ku jaga cinta dan sayangmu, dalam satu kesetiaan, satu harapan, satu cinta dan sayang.

CInta dan sayang yang hanya aku tujukan untukmu, engkau ciptaanNya yang begitu indah.
kan ku jaga selalu, engkau ciptaanNya yang begitu indah.

aku sangat bersyukur memiliki cinta dan sayangmu,

Betapa agung Dzat yang menciptakanmu dengan begitu indah.

Akhir-akhir ini banyak orang yang lagi kesengsem ama film Laskar Pelangi. Berawal dari novel laris dengan judul yang sama karya Andrea Hirata, akhirnya diangkat ke layar bioskop oleh sutradara Riri Reza. Hasilnya, banyak orang yang senang dan terinspirasi ama film itu. Konon banyak politisi yang ikutan nonton juga terharu oleh adegan demi adegan pada film itu.

Film ini menceritakan perjuangan anak-anak sekolah di daerah yang tertinggal menggapai masa depan. Jangan bandingkan ama kota Jakarta yang hingar bingar en segala ada, bersekolah aja mereka kudu menghindari hadangan seekor buaya besar. Tapi karena ketekunannya, banyak di antara mereka yang menjadi orang sukses di masa depan.

Nggak manja

Mungkin banyak yang tersentuh oleh film itu, tapi berapa banyak nih remaja jadi nyadar, bahwa hidup itu emang perjuangan? Kejadian dalam novel itu bukan bohongan. Banyak teman kita yang berjuang untuk bisa sampai ke sekolah. Di satu harian nasional pernah dipampang foto seorang anak SD yang sedang berenang untuk tiba di sekolah. Ya, sekolahnya emang terhalangi oleh sungai besar. Untuk itu ia kudu berangkat pagi-pagi banget dan siap-siap berenang. Tas, sepatu, seragam sekolah, dan buku-buku pelajarannya dimasukkan ke dalam kantong plastik agar tidak basah. Dan … byur! Ia pun berenang agar tiba di sekolah.

Saudara-saudara saya yang di Jatim pun sering bercerita kalo dulu mereka harus jalan kaki 4-5 kilometer ke sekolah. Untuk itu mereka melewati perkebunan teh, karet, dan melintasi jembatan kereta api yang tingginya masya Allah! Kadangkala di tengah jembatan harus berpapasan dengan kereta api. Mereka pun menghindar ke bahu jembatan yang sengaja disiapkan oleh perusahaan kereta api, atau bergelantungan di bawah rel!
Wah beda banget ya dengan kita semua. Yang kalo ke sekolah berjalan kaki sekian puluh meter saja udah ngeluh kejauhan, lalu milih naik angkutan umum, antar jemput, atau bawa kendaraan sendiri ke sekolah. Nggak ada ceritanya kudu berenang, melewati kebun karet, apalagi berpapasan ama buaya atau kudu pontang-panting menghindari kereta api.
Udah begitu, di sekolah nggak ada cerita kelaperan. Kantin ada dengan menu jajanan yang komplit. Uang saku pun terjamin. Malah nggak sedikit anak sekolah yang uang sakunya di atas UMR buruh pabrik atau kuli bangunan! Belum lagi ponsel setia menemani dengan pulsa yang dijamin selalu ada.

Punya fasilitas yang oke emang nggak salah. Yang salah kalo kemudian kita jadi kebawa manja dan nggak mandiri. Selalu menggantungkan semuanya pada orang lain. Nggak terbayangkan bahwa bersekolah itu nggak gratis dan orang tua banting tulang menghidupi kita semua.

Sikap mandiri itulah yang di antaranya pengen ditampilkan dalam kisah Laskar Pelangi. Meski dalam keadaan seadanya – malah serba susah – tapi pantang menyerah. Kita tidak tahu apakah pesan itu bisa ditangkap oleh para pembaca dan pemirsa film. Jangan-jangan orang lebih terpukau pada jalinan cerita di buku, atau sinematografinya di film ketimbang menangkap pesannya.

Di Indonesia, jadi remaja yang punya semangat tinggi untuk belajar nggak gampang. Pasalnya sejak remaja udah dicekoki aneka dugem (dunia gemerlap). Yang namanya sukses itu bukanlah kerja keras apalagi ngandelin kecerdasan otak, tapi cukup tampang keren atau suara merdu. Maka bangku sekolah udah mulai ditinggalkan banyak remaja. Kalo pun sekolah atau kuliah ya untuk formalitas punya ijazah. Yang lebih parah, nggak sedikit remaja kita cuek abis kalo nggak naek kelas atau putus sekolah gara-gara sibuk cari duit en popularitas. Musibah deh tuh!

Saya jadi teringat, beberapa tahun silam, di sebuah infotainment diliput cerita beberapa selebritis yang nggak naek kelas atau drop out karena kesibukan mereka. Rata-rata dengan enteng mereka menceritakan pengalaman tersebut. Bukankah ini kampanye negatif buat kaum remaja bahwa bersekolah itu nggak penting, yang penting elo-elo bisa cari duit. Toh, jadi kaya nggak perlu pake ijazah.
Ini juga yang jadi tema sebuah iklan rokok. Pilih mana; lulus dulu or kerja dulu? Menurut kamu gimana?

Di Amerika, banyak pakar pendidikan dan tokoh masyarakat yang prihatin melihat kualitas pendidikan para remaja AS. Di kampus-kampus ternama seperti Harvard, indeks prestasi mahasiswa asal AS kalah oleh mahasiswa asal Asia.

Di Indonesia? Masih ada aja anak SMA yang berangkat hanya bawa satu buah buku tulis yang dilipat dan dimasukkan ke saku belakang celananya. Pulang sekolah ada ekskul informal; nongkrong di mall dan di pinggir jalan, atau tawuran. Halah!
Ada beberapa kawan yang pernah jadi guru di sekolah-sekolah swasta unggulan. Di sana, kata mereka, banyak guru yang jiper alias takut ngasih nilai kecil pada muridnya. Soalnya orang tua siswa bakal marah pada sekolah kalo sampai anaknya dapet nilai kecil, apalagi sampai nggak naek kelas. Bukankah ini berarti membuat remaja kita jadi makin manja?

Remaja Islam, remaja pejuang

Bro en sis, mungkin nggak banyak remaja tahu apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. ketika hidup dalam asuhan Abu Thalib, pamannya. Setelah kedua orang tuanya wafat, kemudian kakeknya juga wafat, Rasulullah saw. diajak tinggal di rumah pamannya itu. Abu Thalib bukan orang yang kaya. Anaknya pun banyak. Maka Rasulullah saw. pun berinisiatif mencari pekerjaan untuk meringankan beban pamannya. Salah satunya beliau bekerja sebagai penggembala kambing. Beliau juga bercerita kalo para nabi dan rasul pun adalah orang-orang yang hidupnya mandiri, ada yang menjadi penggembala kambing, atau yang lain.

Ketika dewasa, Nabi SAW. bekerja membawa barang dagangan milik Khadijah ra. Berkali-kali Beliau melakukan perdagangan dan membawa keuntungan besar. Sampai akhirnya menikahi wanita yang suci dan mulia itu.
Guyz, umat Islam diajarkan oleh Nabi saw. untuk jadi umat pejuang. Beliau memuji orang-orang yang giat belajar dan giat bekerja. Orang yang mencari ilmu dijanjikan akan mudah meniti jalan ke surga. Sabdanya:
“Barangsiapa yang meniti jalan untuk mencari ilmu di sana, niscaya Allah mudahkan jalannya ke surga.”

Hakim bin Hizam ra. pernah bertutur bahwa ia pernah meminta sesuatu kepada Nabi saw. lalu beliau memberinya. Ia meminta lagi, dan kembali Beliau saw. memberinya. Kemudian ia meminta lagi, tapi kali ini Rasulullah saw. berkata padanya, “Hai Hakim, harta ini memang indah dan manis, maka siapa yang mengambilnya dengan kelapangan hati diberi berkat baginya. Sebaliknya, siapa yang menerimanya dengan kerakusan tidak berkah baginya, bagaikan orang yang tak kunjung kenyang. Dan tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.” Hakim kemudian berkata, “Ya Rasulullah, demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, saya tidak akan menerima apapun dari seseorang sepeninggalmu hingga mati.” Maka semenjak itu Hakim tidak pernah menerima pemberian dari siapapun termasuk dari baytul mal.

Sobat muda muslim, kesuksesan yang diceritakan dalam film Laskar Pelangi itu adalah buah kerja keras dan ketekunan. Nggak datang begitu aja. Dua hal itulah yang jadi resep siapa aja yang pengen sukses.

So, nyadar deh kalo masa muda yang kamu sedang miliki itu adalah impian banyak orang yang udah lanjut usia? Karena kamu tuh punya satu kesempatan yang oke banget, yang kalo dimanfaatkan semaksimal mungkin bakal menjadi sesuatu yang hebat. Termasuk jadi kepala negara yang hebat pun ditentukan hari ini selagi kamu muda. Pepatah lama bilang, “pemuda hari ini, pemimpin masa depan”.

Hari ini, umat Islam butuh banget remaja-remaja yang punya semangat untuk maju. Cinta agama, mandiri dan pastinya nggak egois. Nabi saw. bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan pada hari tidak ada naungan kecuali naunganNya; … pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya.” (HR Muslim)

Udah gitu, umat Islam juga butuh remaja-remaja yang istiqamah dengan agamanya. Nggak peduli orang lain mau ngomong apa yang penting maju terus pantang mundur membela kebenaran. Maklum aja, hari gini banyak orang yang mencela orang-orang yang cinta pada agamanya (Islam). Yakin aja, yang namanya kebenaran nggak ditentukan ama suara terbanyak, tapi oleh Al Quran dan as sunnah. Allah Swt. Berfirman (yang artinya): “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS al-An’am [6]: 116)


Penuh Kedamaian, Lemah Lembut dan Baik
Hati!

Cinta yang sejati menenangkan hati kita dari kekacauan, membuat
hati kita merasa lebih santai dan bahagia serta memberikan kehangatan
dan kedamaian bagi jiwa kita.

Rendah Hati

Cinta sejati adalah cinta yang rendah hati. Orang yang rendah hati
akan menjadi pasangan yang terbaik. Kerendahan hati diri mereka
akan menjadi dasar dari kemampuan mereka untuk mencintai.

Jujur dan Penuh kebenaran!

Cinta sejati selalu ingin untuk menjadi jujur setiap waktu! Ini
adalah satu-satunya cara agar cinta sejati dapat bertahan. Kejujuran
akan membangun kepercayaan. Kepercayaan adalah tulang punggung dari
sebuah pernikahan yang baik! Tanpa kepercayaan maka Anda tidak dapat
membuat diri Anda menjadi diri Anda yang sebenarnya. Apabila kepercayaan
gagal, maka semuanya akan berakhir.

Tidak Mementingkan Diri Sendiri

Cinta sejati adalah seorang “pemberi”. Masing-masing dari
pasangan itu menyadari kebutuhan satu sama lain, dan ingin memberi
kepada satu sama lain. Pasangan yang tidak mementingkan diri sendiri
tahu bahwa mereka harus mencintai satu sama lain

Abadi
Cinta sejati mengikatkan diri mereka yang satu kepada yang lain
untuk seumur hidup! Inilah apa yang dimaksudkan untuk sebuah
pernikahan. Tidak ada satupun alasan yang cukup kuat untuk mengkhianati
“cinta” yang dia berikan bagi Anda. Kesetiaan
adalah satu-satunya cara untuk menguatkan kepercayaan yang dibutuhkan
untuk membangun sebuah pernikahan dari tahun ke tahun!

Memberikan Pengharapan!

Cinta sejati selalu menginginkan apa yang terbaik bagi orang lain.
Kecemburuan ataupun iri hati tidak pernah masuk ke dalamnya karena
cinta sejati hanya peduli untuk melihat yang lain menjadi yang terbaik
dari apa yang mereka bisa!

Sabar

Cinta sejati tidak pernah terburu-buru, selalu mengambil waktu untuk
melihat melalui setiap situasi. Cinta sejati menunggu satu sama
lain, tidak peduli apapun yang terjadi, untuk apapun, dan …
kapanpun.

Apa Yang Anda Lihat!

Cinta sejati TIDAK ditemukan dari apa yang terlihat dari luar! Anda pernah
mendengar cerita lama… “Anda tidak dapat menilai buku yang bagus
dengan melihat sampulnya!“ Menikahi seseorang karena mereka tampan/cantik
dan itu sesuai dengan Anda, tidak akan memberikan Anda kebahagiaan! Cinta
sejati melihat seseorang dari dalam, dimana terdapat “kecantikan sejati”,
jangan membuat kesalahan untuk yang satu ini! Orang-orang yang “kelihatan”
biasa-biasa saja dari luar akan menjadi lebih dari biasa-biasa saat Anda mengetahui
siapa sebenarnya diri mereka yang ada di dalamnya. Ada banyak, banyak lajang
yang akan menjadi pasangan yang luar biasa, tetapi diremehkan hanya karena
mereka tidak dapat menjadi cover dari majalah kesukaan Anda. Dengan berfokus
hanya pada apa yang nampak di luar akan membawa kita kepada kekecewaan! Intinya
disini adalah bahwa cinta yang sejati terletak jauh di dalam hati, TIDAK PERNAH
di luar! Kita harus mengubah pandangan mata kita jauh ke dalam ketika kita
sedang mencari pasangan untuk seumur hidup. Apa yang tidak Anda lihat.. adalah
apa yang akan Anda dapatkan!

Menyelamatkan!

Cinta sejati TIDAK menghancurkan hidup Anda hanya karena seseorang memiliki
masalah. Semua orang bertanggungjawab atas hidup, tindakan, dan keputusan-keputusan
mereka sendiri. Apabila keputusan seseorang membuat Anda “gila”
atau Anda mencoba untuk mengendalikan kelakuan mereka, Anda cenderung untuk
menyakiti diri mereka dan juga diri Anda sendiri. Cinta sejati hanya ada pada
orang yang dapat mengurus diri mereka sendiri. Apakah Anda meletakkan hidup
dan kebahagiaan Anda dalam keadaan yang berbahaya hanya karena kelakuan buruk
orang lain? Apabila Anda mempertimbangkan hendak menikah dan saat ini Anda
sendiri sedang tidak bahagia, mengendalikan, atau sedang berusaha menyingkirkan
kelakuan buruk seseorang, maka Anda akan membawa diri Anda ke dalam dunia
yang penuh dengan penderitaan! Ini bukanlah CINTA jika Anda berusaha “menyelamatkan”
seseorang dari keputusan mereka sendiri!! Semua orang harus menerima konsekuensi
dari tindakan-tindakan mereka sendiri! Anda tidak dapat ‘menyelamatkan’
seseorang dari diri mereka sendiri.

Mementingkan Diri Sendiri!

Cinta sejati TIDAK mementingkan diri sendiri! Orang yang mementingkan diri
sendiri akan menjadi pasangan yang sangat buruk! Cinta sejati hanya dimiliki
oleh orang-orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri. Mereka tahu bahwa
mereka akan menemukan kebahagiaan saat mereka memberi kepada yang lain. Tidak
ada kebahagiaan yang lebih baik di dunia ini daripada kebahagiaan karena memberi.
Orang yang mementingkan diri sendiri hanya peduli pada diri mereka sendiri,
apa yang mereka miliki dan inginkan. Memenuhi kebutuhan satu sama lain sangatlah
penting dalam pernikahan yang sehat. Sangatlah mustahil bagi orang yang egois
untuk dapat memberikan apa yang ANDA butuhkan karena kebutuhan mereka selalu
lebih penting!

Mementingkan Uang!

Cinta yang sejati TIDAK dapat diukur dengan uang! Tidak ada uang dalam jumlah
berapapun yang dapat memberikan cinta sejati kepada Anda. Cinta akan uang
adalah “akar dari segala kejahatan!” Uang dapat membuat orang melakukan
apa yang biasanya tidak mereka lakukan. Bila Anda berpikir Anda harus menikah
demi uang untuk menemukan cinta, untuk memiliki pernikahan yang baik, dan/atau
agar semua masalah Anda berakhir, maka Anda sangat salah! Masalah-masalah
hanya akan menjadi jauh lebih mahal dengan uang!

Harga Diri yang rendah!

Cinta sejati TIDAK ditemukan pada kepercayaan diri yang tidak sehat! Berapa
banyak orang di dunia ini yang percaya bahwa cinta akan membuat mereka bahagia?
Apabila Anda tidak bahagia sekarang, maka tidak akan ada satu orangpun yang
dapat memberikan kebahagiaan bagi Anda! Anda harus menemukan cinta dalam diri
Anda sebelum Anda dapat mencintai seseorang sebagaimana seharusnya. Ada dongeng
yang sangat menyesatkan dimana dikatakan “temukan saja seorang pria atau
wanita” maka Anda akan bahagia. Pernikahan yang bahagia ditemukan pada
dua orang yang telah mencintai diri mereka sendiri dan peduli akan siapa diri
mereka saat ini. Mereka tidak mencari pasangan untuk “membuktikan”
bahwa mereka dapat dicintai.
Sebaliknya, ketika Anda menyadari bahwa Anda
sangat berharga… maka Anda akan membuat pilihan-pilihan yang lebih baik.
Orang-orang yang menyakiti dan yang merasa tidak dicintai seringkali akan
berbalik kepada orang yang pertama kali datang kepada mereka untuk mengisi
kehampaan yang mereka rasakan. Kebanyakan hal ini tidak menghasilkan pernikahan
yang sehat. Apabila Anda mendapati diri Anda dalam situasi yang seperti ini,
maka Anda perlu melangkah mundur sejenak dari hubungan Anda dan bekerja ke
dalam diri Anda untuk mencari akar dari ketidakbahagiaan Anda. Sampai saat
itu… maka Anda tidak akan mampu membuat keputusan terbaik yang layak
Anda terima untuk diri Anda sendiri!

Penyiksaan secara Verbal Atau Fisik!

Cinta yang sejati tidak menyakiti! Tidak diragukan lagi, tindakan pelecehan
dalam bentuk apapun yang dilakukan seseorang BUKANLAH CINTA! Cinta adalah
kelembutan dari hati manusia! Cinta tidak menghasilkan kesakitan. Rasa sakit
yang dikatakan “atas nama cinta” sangatlah jauh dari kebenaran yang
dapat Anda peroleh. Cinta selalu membangun, dan tidak pernah menjatuhkan!
Pelecehan secara verbal maupun fisik dapat dikatakan sebagai kelainan tanpa
peduli alasan apa yang menyebabkannya. Penyiksaan dalam bentuk apapun sebelum
pernikahan dapat dipastikan akan terus berlanjut sampai kepada pernikahan.
Konseling bagi pelaku pelecehan adalah SATU-SATUYA langkah yang harus diambil!
Apabila Anda masih belum menikah, tolonglah ambil waktu untuk membuat pilihan
yang tepat dalam memilih pasangan seumur hidup Anda. Hidup Anda dan orang-orang
yang ada di sekitar Anda akan dipengaruhi oleh pilihan ini. Membuat “pilihan
yang tepat” untuk diri Anda mengharuskan Anda untuk melihat secara obyektif
diri Anda sendiri dan orang yang akan Anda nikahi. Apabila Anda berkata kepada
diri Anda sendiri “Yah, aku kan bisa bercerai!” Berhentilah sekarang
dan ujilah kembali keputusan yang Anda buat! Anda harus menyadari bahwa pasangan
hidup Anda adalah untuk seumur hidup. Tuhan tidak berkenan dan sangat membenci
perceraian dan itu untuk alasan yang baik karena kehancuran yang dihasilkannya
akan berlangsung seumur hidup, bahkan untuk generasi yang akan dating

Semua orang layak untuk memperoleh kebahagiaan. Ambillah waktu untuk mencari pasangan hidup yang tepat bagi
diri Anda Anda TIDAK
AKAN pernah MENYESAL harus menunggu ketika Anda telah menemukan “ORANG
YANG TEPAT”!


JANGAN takut bertengkar. Kalimat tadi mungkin terasa aneh. Tapi sesungguhnya tidak. Banyak ahli yang mengatakan, hubungan yang tak pernah ditandai dengan pertengkaran, justru menyatakan ketidaksehatan hubungan itu. Dengan bertengkar, orang akan jadi jujur, dan mengemukakan semua keluhannya. Dan, melalui bertengkarlah, kita mungkin lebih tahu bagaimana cara memperbaiki diri.

Jika penyair Soebagyo Sastrowardoyo masih hidup, mungkin dia akan mengubah kalimatnya, "melalui dosa kita jadi dewasa", menjadi "melalui pertengkaran kita jadi dewasa". Ini bagi sebagian orang memang tampak aneh. Padahal, pertengkaran bisa menjadi sarana bagi kedekatan hubungan sebuah pasangan.

Menurut Dr. Les Parrot dalam buku tentang perkimpoian, yang berjudul Saving Your Marriage Before It Starts, bahwa adalah suatu hal yang mustahil bagi pasangan manapun untuk menghindari diri dari pertengkaran. Kepala kita menyimpan banyak hal, dan bukan suatu kewajiban untuk selalu menyamakan apa pun dengan pasangan kita. Maka, menahan diri dengan maksud untuk menghindari dari masalah, justru sebuah permulaan yang buruk.

"Bertengkarlah, jika masalah itu memang ada. Tapi ingat, Anda harus tahu tujuan dari pertengkaran itu, dan bagaimana mengorganisasinya dengan baik," anjur Parrot.
Pertengkaran adalah bumbu perkimpoian. Keromantisan pasangan kini bukan dilihat dari seberapa banyak mereka menghindari pertengkaran, tapi sejauh apa mereka telah melewati ratusan pertengkaran dan tetap merasa bahagia. Pertengkaran justru menyehatkan, dan membuat dewasa. Tapi, Anda perlu cara mengelolanya.

Membaca pikiran pasangan.

Kesalahan yang sering terjadi pada tiap pertengkaran adalah kita selalu terjebak pada pemikiran kita sendiri. Padahal kalau saja kedua pihak mampu menajamkan pandangan pada pikiran satu sama lain, maka proses pertengkaran menjadi permainan adu pendapat yang mengasikan.

Jangan menjatuhkan.

Anda boleh mngkritik pasangan, dengan memilih kata-kata yang tepat. Bukan mencemooh, mencela dan menjatuhkan. Rasanya akan sangat berbeda. Jika Anda mengkritik dengan baik, pertengkaran justru terjadi lebih sebagai sarana tukar pikiran yang terbuka, keras, tapi tanpa kepedihan. Ini amat menyehatkan.

Pahami topik-topik yang sensitif.

Memahami topik-topok yang sensitif, yang biasanya memancing emoso pasangan Anda adalah cara terbaik. Jika pun Anda ingin membicarakannya, pilihlah cara yang tepat mengutarakannya, atau bangun suasana yang intim, hingga dia tak tersinggung. Mungkin sehabis makan malam, atau seusai bercinta. Dalam kondisi seperti itu, dan Anda bisa mengatakannya seolah bercanda, pertengkaran bisa diminimalisir, dan masalah tetap dapat dibuka, dan bungkin diselesaikan.

Selalu jujur.

Ini penting. Jika keterbukaan dan kejujuran Anda jaga, tak akan ada masalah yang menumpuk, dan ini tak akan membuat pertengkaran menjadi hebat. Ungkapkan dan cari penyelesaian masalah sekecil apa pun, secepat mungkin. Jangan menimbunnya, dan berharap Anda akan lupa. Suatu waktu, itu akan jadi bumerang.

�Maaf Akhi, bukannya saya tidak menghormati permintaan akhi. Tapi rasanya kita cukup menjalin ukhuwah saja dalam perjuangan. Saya doakan semoga akhi menemukan pasangan lain yang lebih baik dari saya.�

Amboi, bagaimana rasanya bila kalimat di atas dialami oleh para ikhwan? Bisa saja langit terasa runtuh, hati berkeping-keping. Sang pujaan hati yang kita harapkan menjadi teman setia dalam mengarungi perjalanan hidup menampik khitbah kita. Segala asa yang pernah coba ditambatkan akhirnya karam. Cinta suci sang ikhwan bertepuk sebelah tangan.

Ya drama kehidupan menuju meghligai pelaminan memang beragam. Ada yang menjalaninya dengan smooth, amat mulus, tapi ada yang berliku penuh onak duri, bahkan ada yang pupus ditengah perjalanan karena cintanya tak bertaut dalam maghligai pernikahan.

Ini bukan saja dialami oleh para ikhwan, kaum akhwat pun biasa mengalaminya. Bedanya, para ikhwan mengalami secara langsung karena posisi mereka sebagai subyek/pelaku aktif dalam proses melamar. Sehingga getirnya kegagalan cinta �seandainya memang terasa getir- langsung terasa. Sedangkan kaum akhwat perasaanya lebih aman tersembunyi karena mereka umumnya berposisi pasif, menunggu pinangan. Tapi manakala sang ikhwan yang didamba memilih berlabuh dihati yang lain kekecewaan juga merebak dihati mereka.

Mengambil sikap

Ikhwan dan akhwat rahimakumullah, siapapun berhak kecewa manakala keinginan dan cita-citanya tidak tercapai. Perasaan kecewa adalah bagian dari gharizatul baqa' (naluri mempertahankan diri) yang Allah ciptakan pada manusia. Dengannya, manusia adalah manusia bukan onggokan daging dan tulang belulang. Ia juga bukan robot yang bergerak tanpa perasaan, tapi manusia memiliki aneka emosi jiwa. Ia bisa bergembira tapi juga bisa kecewa.

Emosi negatif, seperti perasaan kecewa akibat tertolak, bukannya tanpa hikmah. Kesedihan akan memperhalus perasaan manusia, bahkan akan meningkatkan kepekaannya pada sesama. Bila dikelola dengan baik maka akan semakin matanglah emosi yang terbentuk. Tidak meledak-ledak lalu lenyap seketika. Ia akan siap untuk kesempatan berikutnya; kecewa ataupun bergembira. Jadi mengapa tidak bersyukur manakala kita ternyata bisa kecewa? Karena berarti kita adalah manusia seutuhnya.

Kegagalan meraih cinta juga bukan pertanda bencana. Tapi akan memberikan pelajaran beharga pada manusia. Seorang filusuf bernama John Charles Salak mengatakan : "Orang-orang yang gagal dibagi menjadi dua; yaitu mereka yang berfikir gagal padahal tidak pernah melakukannya, dan mereka yang melakukan kegagalan dan tak penah memikirkannya."

Karenanya kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, tapi justru awal dari segala-galanya. Meski terdengar klise tapi ada benarnya; ambillah pelajaran dari sebuah kegagalan lalu buatlah perbaikan diri. Tentu saja itu dengan tetap mengimani qadla Allah SWT.

Agar kegagalan mengkhitbah tidak menjadi petaka, maka ikhwan dan akhwat, persiapkanlah diri sebaik-baiknya, ada beberapa langkah yang bisa diambil.

Percayai qadla

Manusia tidak suka dengan penolakan. Ia ingin semua keinginannya selalu terpenuhi. Padahal ditolak adalah salah satu bagian dari kehidupan kita. Kata seorang kawan, hidup itu adakaanya tidak bisa memilih. Perkataan itu benar adanya, cobalah kita renungkan, kita lahir kedunia ini tanpa ada pilihan; terlahir sebagai seorang pria atau wanita, berkulit coklat atau putih, berbeda suku bangsa, dsb. Demikian pula rezeki dan jodoh adalah hal yang berada di luar pilihan kita. Man propose, god dispose. Kita hanya bisa menduga dan berikhtiar, tapi Allah jua yang menentukan.
�Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari kemudian menjadi �alaqah kemudian menjadi janin, lalu Allah mengutus malaikat dan diperintahkannya dengan empat kata dan dikatakan padanya: �tulislah amalnya, rizkinya dan ajalnya.� (HR.Bukhari)

Maka kokohkanlah keimanan saat momen itu terjadi pada kita. Yakinilah skenario Allah tengah berlangsung, dan jadilah penyimak yang baik dengan penuh sangka yang baik padaNya. Tanamkan dalam diri kita �Allah Mahatahu yang terbaik bagi hamba-hambaNya'.

Jangan biarkan kekecewaan menggerogoti keimanan kita kepadaNya. Apalagi dengan terus menanamkan prasangka buruk padaNya. Segerahlah sadar bahwa ini adalah ujian dari Allah . akankah kita menerima qadla-Nya atau merutuknya?

Dengan demikian, fragmen yang pahit dalam kehidupan InsyaAllah akan memperkuat keyakinan kita bahwa Allah sayang pada kita. Demikian sayangnya, sampai-sampai Allah tidak rela menjodohkan kita dengan si fulan yang kita sangka sebagai pelabuhan cinta kita.

Bersiap untuk cinta dan bahagia

�Seandainya ukhti menjadi istri saya, saya berjanji akan membahagiakan ukhti,�demikian ungkapan keinginan para ikhwan terhadap akhwat yang akan mereka lamar. Puluhan, mungkin ratusan angan-angan kita siapkan seandainya si dia menerima pinangan cinta kita. Kita begitu siap untuk berbahagia dan membahagiakan orang lain. Sama seperti banyak orang yang ingin menjadi kaya, tenar dan dipuja banyak orang.

Sayang, banyak diantara kita yang belum siap untuk merasa kecewa. Dan ketika impian itu berakhir kita seperti terhempas. Tidak percaya bahwa itu bisa terjadi, ada akhwat yang �berani? menolak pinangan kita. Bila kurang waras, mungkin akan keluar ucapan, �berani-beraninya...� atau �apa yang kurang dari saya.....�

Akhi dan ukhti, jangan biarkan angan-angan membuai kita dan membuat diri menjadi tulul amal, panjang angan-angan. Sadarilah semakin tinggi angan membuai kita, semakin sakit manakala tak tergapai dan terjatuh. Ambillah sikap simbang setiap saat; bersiap diri menjadi senang sekaligus kecewa. Sikap itu akan menjadi bufferl penyangga mental kita, apapun yang terjadi kelak.

Manakala kenyataan pahit yang ada di depan mata, sang akhwat menolak khitbah kita atau sang ikhwan memilih �bunga' yang lain, hati ini tidak akan tercabik. Yang akan datang adalah keikhlasan dan sikap lapang dada. Demikian pula saat ia menjatuhkan pilihannya pada kita, hati ini akan bersyukur padaNya karena doa terkabul, keinginan menjadi kenyataan.

� Menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya urusannya seluruhnya baik dan tidaklah hal itu dimiliki oleh seseorang kecuali bagi seorang mukmin. Jika mendapat nikmat ia bersyukur maka hal itu baik baginya, dan jika menderita kesusahan ia bersabar maka hal itu lebih baik baginya.� (HR. Muslim)

Bukan Aib

Ditolak? Emang enak! Wah, mungkin demikian pikiran sebagian ikhwan. Malu, kesal dan kecewa menjadi satu. Tapi itulah bentuk �perjuangan' menuju pernikahan. Kita tidak akan pernah tahu apakah sang pujaan menerima atau menolak kita, kecuali setelah mengajukan pinangan padanya. Manakala ditolak tidak usah malu, bukan cuma kita yang pernah ditolak, banyak ikhwan yang �senasib' dan �sependeritaan'.

Saatnya berjiwa besar ketika ditolak. Tidak perlu merasa terhina. Demikian pula saat banyak orang tahu hal itu. Bukankah apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang benar?
Mengapa mesti malu.

�Kita mungkin takkan Bahagia'

Marah-marah karena lamaran tertolak? Mendoakan keburukan pada ikhwan yang tidak mencintai kita? Itu bukan sikap seorang muslim/muslimah yang baik. Tidak ada yang bisa melarang seseorang untuk jatuh cinta maupun menolak cinta. Sebagaimana kita punya hak untuk mencintai dan melamar orang, maka ada pula hak yang diberikan agama pada orang lain untuk menolak pinangan kita. Bahkan dalam kehidupan rumah tangga pun seorang suami dan istri diberikan hak oleh Allah SWT. Untuk membatalkan sebuah ikatan pernikahan.

Mengapa ada hak penolakan cinta yang diberikan Allah pada kita? Bahkan dalam pernikahan ada pintu keluar �perceraian'? jawabannya adalah sangat mungkin manusia yang jatuh cinta atau setelah membangun rumah tangga, ternyata tak kunjung memperoleh kebahagiaan ( al hanaah ) dari pasangannya, maka tiada guna mempertahankan sebuah bahtera rumah tangga bila kebahagiaan dan ketentraman tak dapat diraih. Wallahu'alam bi ash shawab

�Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.� ( Al-Baqarah[2]:229 )

Berpikir positiflah manakala cinta tak berbalas. Belum tentu kita memperoleh kebahagiaan bila hidup bersamanya. Apa yang kita pandang baik secara kasat mata, belum tentu berbuah kebaikan di kemudian hari.

Adakalanya keinginan untuk hidup bersama orang yang kita idamkan begitu menggoda. Tapi bila ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan, untuk apa semua kita pikirkan lagi? Allah Maha Pangatur, ia pasti akan mempertemukan kita dengan orang yang memberikan kebahagiaan seperti yang kita angankan. Bahkan mungkin lebih dari yang kita harapkan.

Be positive thinking, suatu hari kelak ketika antum telah menikah dengan orang lain �bukan dengan si dia yang antum idamkan- niscaya antum takjub dengan kebahagiaan yang antum rasakan. Percayalah banyak orang yang telah merasakan hal demikian.

�Saya tak mungkin berbahagia tanpanya'

ini adalah perangkap, ia akan memenjarakan kita terus menerus dalam kekecewaan. Perasaan ini juga menghambat kita untuk mendapatkan kesempatan berbahagia dengan orang lain. Mereka yang terus menerus mengingat orang yang pernah menolaknya, dan masih terbius dengan angan-angannya sebenarnya tengah menyiksa perasaan mereka sendiri dan menutup peluang untuk bahagia.

Mari berpikir jernih, untuk apa memikirkan orang lain yang sudah menjalani kehidupannya sendiri? Jangan biarkan orang lain membatalkan kebahagiaan kita. Diri kitalah yang bisa menciptakannya sendiri. Untuk itu tanamkan optimisme dan keyakinan terhadap qadla Allah SWT. Insya Allah, akan ada orang yang membahagiakan kita kelak.

Cinta membutuhkan waktu

�maukah ukhti menjadi istri saya? Saya tunggu jawaban ukhti dalam waktu 1 X 24 jam!� Masya Allah, cinta bukanlah martabak telor yang bisa di tunggu waktu matangnya. Ia berproses, apalagi berbicara rumah tangga, pastinya banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkan. Ada unsur keluarga yang harus berperan. Selain juga ada pilihan-pilihan yang mungkin bisa diambil.

Jadi harap dipahami bila kesempatan datangnya cinta itu menunggu waktu. Seorang akhwat yang akan dilamar �contoh extrim pada kasus diatas- bisa jadi tidak serta merta menjawab. Biarkanlah ia berpikir dengan jernih sampai akhirnya ia melahirkan keputusan. Jadi cara berpikir seperti di atas sebenarnya lebih cocok dimiliki anggota tim SWAT ketimbang orang yang berkhitbah.

Ideal bagus, Tapi realistik adalah sempurna

�Suami yang saya dambakan adalah yang bertanggungjawab pada keluarga, giat berdakwah dan rajin beribadah, cerdas serta pengertian, penyayang, humoris, mapan dan juga tampan.� Itu mungkin suami dambaan Anda duhai Ukhti . tapi jangan marah bila saya katakan bahwa seandainya kriteria itu adalah harga mati yang tak tertawar, maka yang ukhti butuhkan bukanlah seorang ikhwan melainkan kitab-kitab pembinaan.
Kenyataannya tidak ada satupun lelaki didunia ini yang bisa memenuhi semua keinginan kita. Ada yang mapan tapi kurang rupawan, ada yang rajin beribadah tapi kurang mapan, ada yang giat dakwah dakwah tapi selalu merasa benar sendiri, dsb.

Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki kriteria bagi calon suami/istri kita, lantas membuat kita mengubah prinsip menjadi �yang penting akhwat� atau �yang penting ikhwan�. Tapi realistislah, setiap menusia punya kekurangan � sekaligus kelebihan. Mereka yang menikah adalah orang-orang yang berani menerima kekurangan pasangannya, bukan orang-orang yang sempurna. Tapi berpikir realistis terhadap orang yang akan melamar kita, atau yang akan kita lamar, adalah kesempurnaan

Maka doa kita kepada Allah bukanlah,�berikanlah padaku pasangan yang sempurna� tetapi �ya Allah, karuniakanlah padaku pasangan yang baik bagi agamaku dan duniaku.�

Kekuatan Ruhiyah

Percaya diri itu harus, tapi overselfconfidence adalah kesalahan. Jangan terlalu percaya diri akhi bahwa lamaran antum diterima. Jangan juga terlalu yakin ukhti, bahwa sang pujaan akan datang ke rumah anti. Perjodohan adalah perkara gaib. Tanpa ada seorang pun yang tahu kapan dan dengan siapa kita akan berjodoh. Cinta dan berjodohan tidak mengenal status dan identifikasi fisik. Bukan karena ukhti cantik maka para ikhwan menyukai ukhti. Juga bukan karena akhi seorang hamalatud da'wah lalu setiap akhwat mendambakannya.

Kita tidak bisa mengukur kebahagiaan orang lain menurut persepsi kita. Bukankah sering kita melihat seseorang yang menurut kita �luar biasa� berjodoh dengan yang �biasa-biasa'. Seperti seringnya kita melihat pasangan yang ganteng dan cantik, populer tapi kemudian berpisah. Inilah rahasia cinta dan perjodohan, tidak bisa terukur dengan ukuran-ukuran manusia

Maka landasilah rasa percaya diri kita dengan sikap tawakal kepada Allah. Kita berserah diri kepadaNya akan keputusan yang ia berikan. Jauhilah sikap takkabur dan sombong. Karena itu semua hanya akan membuat diri kita rendah dihadapan Allah dan orang lain. Intinya saya bermaksud mengatakan �jangan ke-ge-er-an' dengan segala title dan atribut yang melekat pada diri kita.

Beri cinta kesempata (lagi)

�..........dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.� ( QS. Yusuf[12]:87 )
bersedih hati karena gagal bersanding dengan dambaan hati wajar adanya. Tapi bukan alasan untuk menyurutkan langkah berumah tangga. Dunia ini luas, demikian pula dengan orang-orang yang mencintai kita. Kegagalan cinta bukan berarti kita tidak berhak bahagia atau tidak bisa meraih kebahagiaan. Bila hari ini Allah belum mempertemukan kita dengan orang yang kita cintai, insyaAllah ia akan datang esok atau lusa, atau kapanpun ia menghendaki, itu adalah bagian dari kekuasaanNya

cinta juga berproses. Ia membutuhkan waktu. Ia bisa datang dengan cepat tak terduga atau mungkin tidak seperti yang kita harapkan. Ada orang yang dengan cepat berumah tangga, tapi ada pula yang merasakan segalanya berjalan lambat, namun tidak pernah ada kata terlambat untuk merasakan kebahagiaan dalam pernikahan. Beri kesempatan diri kita untuk kembali merasakan kehangatan cinta. � love is knocking outside the door.' Kata musisi Tesla dalam senandung love will find a way. Tidak pernah ada kata
menyerah untuk meraih kebahagiaan dalam naungan ridhoNya. Yang pokok, ikhwan atau akhwat yang kelak akan menjadi pasangan kita adalah mereka yang dirihoi agamanya.
�jika melamar kepada kalian seseorang yang kalian ridho agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah ia, bila kalian tidak melakukannya maka akan ada fitnah di muka bumi dan kerusakan yang nyata� (HR. Turmudzi)

� Wanita dinikahi karena satu dari tiga hal; dinikahi karena hartanya, dinikahi karena kecantikannya, dinikahi karena agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama dan akhlak (mulia) niscaya selamat dirimu.� (HR.Ahmad)



Pernah beli martabak dengan menu yang “biasa”? Hmm… rasanya juga kayaknya biasa-biasa aja. Beda banget dengan martabak yang spesial atau istimewa, baik penyajian maupun rasa so pasti lebih keren, lebih nikmat. Iya nggak sih? Begitupun ketika kita disuruh milih produk ponsel misalnya, kita pasti milih produk yang lebih keren ketimbang yang biasa-biasa aja. Kalo ponsel fungsinya sekadar bisa ngirim SMS or nelepon, produk ponsel dari berbagai merek terkenal sekalipun harganya bisa jauh lebih murah. Maklum, fasilitas biasa dan harga ‘dirinya’ juga biasa, gitu lho. Tapi silakan bandingkan sendiri dengan produk ponsel yang tak biasa, artinya yang luar biasa dalam arti positif: tampilannya, fiturnya, kemampuannya yang menganggumkan dibanding ponsel biasa, dan pasti harganya juga bakalan lebih mahal. Maklumlah, ponsel “sejuta umat” harganya pasti jauh di bawah ponsel jenis smartphone atau communicator Bahkan ada barang yang saking kerennya nggak bisa dijual di sembarang tempat dan jumlahnya terbatas.

Sobat muda muslim, kalo ngomongin benda biasa dan luar biasa insya Allah bisa nyambung ya. Nah, begitu pun dengan diri kita ini. Hidup kita pengen biasa-biasa aja, atau malah pengen banget menjadi luar biasa? Jawaban umumnya pasti ingin menjadi yang luar biasa, menjadi “the special one”, menjadi istimewa di hadapan siapa pun. Apakah menjadi istimewa atau spesial itu bisa dengan sendirinya? Hmm.. sayangnya nggak tuh. Tapi harus diupayakan sama diri kita sendiri. Sumpah, manusia biasa kayak kita-kita ini nggak ada yang begitu lahir punya kemampuan luar biasa. Seiring dengan perkembangan usia dan juga pendidikan, insya Allah kita akan menjadi luar biasa. Yakin saja asal kita mau belajar dan mau mengubah diri kita untuk menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari.

Boys and gals, insya Allah kita bisa menjadi luar biasa. Bukan biasa-biasa aja. Kita juga bisa mempermak diri menjadi remaja luar biasa. Tentu, itu bergantung kepada komitmen kita, tanggung jawab kita, harapan kita, cita-cita kita dan kerja keras kita. Betul, kita nggak mau kalo cuma dianggap remaja biasa. Sebab, dalam diri kita bersemayam naluri untuk mempertahankan diri, yang salah satu penampakkannya kita nggak mau dianggap rendah. Dalam pergaulan aja, kita pasti nggak mau kan kalo cuma dianggap bilangan aja dalam sebuah komunitas, tapi sekaligus kita juga ingin diperhitungkan. Yup, kita nggak sudi kalo dalam sebuah komunitas dianggap sebagai “ngajejegan” alias pelengkap bin ganjel aja. Tapi keberadaan kita dalam sebuah komunitas itu memang benar-benar diharapkan karena memiliki kelebihan dan kemampuan yang tak dimiliki oleh anggota komunitas pada umumnya.

Bro, kamu pasti bisa melakukannya. Kita semua pasti bisa mengubah diri menjadi yang terbaik. Kalo kata Pak Fauzil ‘Adhim yang penulis itu, "jika mampu menjadi yang terbaik, menjadi baik saja belum cukup". Duile keren abis dah! So, kalo kamu mampu menjadi keren, maka menjadi biasa-biasa aja apalagi cupu (culun punya) nggak asyik banget. Sumpah tujuh turunan dan tujuh tanjakan! (backsound: capek dong jalannya? Hehehe.. iya apalagi jalannya berbatu dan terjal! Uppss.. apa hubungannya?)


Kita bukan hewan

Halah, pasti kita semua tahu dan sadar dong kalo diri kita adalah manusia, dan tentunya bukan hewan. Betul, kita semua paham bahwa dilihat dari sisi biologis, kita adalah manusia. Tapi, kalo soal pikiran dan perasaan, nggak otomatis juga kok. Banyak di antara kita ternyata malah mirip-mirip dengan pikiran dan perasaan hewan. Mau contoh? Singa kalo mau makan suka berebut nggak dengan singa lainnya? Kalo kamu perhatiin dalam acara Animal Planet sih emang gitu deh. Main cakar dan saling gigit lawan masing-masing untuk dapetin makanan incerannya. Manusia, kalo nggak belajar norma dan aturan, kayaknya gitu juga deh. Banyak banget kasus gara-gara rebutan penumpang, sopir angkutan umum berantem, malah pake ngeluarin senjata tajam segala. Ujungnya, yang satu masuk bui, yang satu masuk kubur. Rugi semuanya kan?

Oya, kita juga paham bahwa antara manusia dan hewan sama-sama memiliki otak. Tapi perbedaannya, hewan nggak dibekali akal, sementara kita diberikan karunia besar oleh Allah Swt. berupa kemampuan berpikir. Buktinya, dalam peradaban hewan nggak dikenal kemajuan teknologi, nggak ada juga yang sampe sekarang gajah bisa bikin rumah sendiri, atau sesama gajah saling bantu untuk bikin kandang, nggak ada juga gajah yang jualan bahan bangunan. Hehehehe... Ya, karena kemampuannya yang “segitu-gitunya” itu gajah nggak memiliki kemampuan untuk berpikir. Maka, ‘peradaban’ gajah nggak berkembang, dari dulu sampe sekarang dan masa yang akan datang gajah hanya makan makanan yang “itu-itu” juga. Kalo manusia? Hmm.. mungkin yang mau makan gajah juga ada. Manusia bisa mengolah bahan makanan seperti singkong aja bisa menjadi produk combro, peuyeum alias tape, colenak, keripik dan sebagainya. Iya nggak sih? Tapi gajah? Belum ada ceritanya ada combro buatan gajah. Kalao combro yang diinjek gajah bisa jadi ada.

Sobat, di dunia hewan nggak dikenal ajang audisi macam Dangdut Mania, Super Mama, Mamamia, KDI, Indonesian Idol dan lainnya seperti halnya dalam dunia kita, manusia. Di dunia hewan persaingan mendapat harta dan ketenaran, kayaknya nggak ada seperti dalam kehidupan manusia. Maka, hewan manapun tak ada yang mencoba bikin ajang seperti yang disebutin di atas.

‘Peradaban’ hewan nggak mengenal adanya ajang buka aurat, karena emang nggak punya aturan (maksudnya, mau buka aurat atau nggak yang emang nggak ada aturannya yang dihasilkan oleh hewan itu sendiri). Nah, adanya aturan itu bagi manusia justru lahir dari kemampuan berpikir manusia dan kemampuan memahami pesan dari aturan-aturan yang dibuatkan untuk dirinya. Itu sebabnya, dengan segala perbedaan antara manusia dan hewan, jelas banget konsekuensi hidup dan tanggung jawab hidup antara manusia dan hewan juga beda banget. Bener lho.

Allah Swt. tidak mengatur hewan betina yang sudah baligh (backsound: cara ngukur hewan itu baligh atau belum gimana ya?..heheheh) kalo keluar kandang harus menutup aurat, pake jilbab dan pake kerudung (khimar). Nggak ada pula aturan bahwa sapi jantan harus melakukan ghadul bashar alias menundukkan pandangan ketika melihat sapi betina lewat di depannya. hehehe. Kedua aturan itu hanya untuk manusia. Yup, manusia. Karena manusia dibekali kemampuan berpikir. Tapi, sedih banget karena sekarang banyak manusia yang melanggar aturan. Kamu bisa lihat sendiri, wanita yang udah baligh pas keluar rumah malah membuka auratnya, atau sengaja memamerkannya kepada khlayak ramai tanpa ingat dosa sekaligus lupa bahwa dirinya sebagai manusia punya kemampuan memahami aturan bagi kehidupannya. Hmm… menyedihkan banget. Benar-benar tragedi kemanusiaan yang terbesar dan terberat. Padahal, Allah Swt. sudah mewanti-wanti manusia dengan firmanNya:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS al-A’raaf [7]: 179)

Waduh, kita yang nggak mau nurut sama aturan yang dibuatkan oleh Allah Swt. untuk kita kayaknya siap-siap dicap mirip binatang ternak kelakuannya. Iya, maksudnya adalah karena kita udah diberikan kemampuan untuk berpikir, sementara hewan nggak, tapi kelakuan kita malah beda tipis atau malah sama dengan hewan. Iya kan?

Menjadi luar biasa dengan takwa

Okelah, kalo disamain dengan hewan kayaknya banyak yang nggak mau meski faktanya ternyata mendekati ‘sempurna’ dengan hewan dalam soal perilaku. Sekarang kita ngomongin sesama kita sendiri. Meski manusia diciptakan dari bahan yang sama, yakni dari sel sperma dan sel telur, tapi hasil akhirnya nggak ada yang sama. Para begundal macam Mussolini, Hitler, dan Vladimir Lenin sekalipun, diciptakan dari tetes air hina. Sama dengan para ulama dan orang baik-baik lainnya diciptakan dari bahan tersebut oleh Allah Swt. Tapi kehidupan di dunia yang memolesnya menjadi berbeda. Dan, semua itu memang ada konsekuensinya atas segala yang menjadi pilihan hidup mereka

Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS as-Sajdah [32]: 7-9)

Menjadi manusia biasa, dalam arti bahwa kita nggak mau berkembang menjadi lebih baik, tentunya sangat menyedihkan sekali. Kita banyaknya tuh “panasan” hati manakala temen kita punya ponsel baru, punya pakaian baru atau harta dan kesenangan dunia lainnya. Buru-buru deh untuk meredam panasnya hari akibat iri itu kita beli ponsel atau harta dan kesenangan sejenis, bila perlu yang lebih baik dari teman saingan kita itu. Tapi sungguh sangat disayangkan, untuk masalah ibadah kok jarang banget yang “panasan” hatinya ya? Lihat temennya yang pake kerudung dan jilbab, hatinya nggak panas, malah biasa-biasa saja. Nggak ngiri, gitu lho. Lihat temennya aktif di masjid dan ngurus remaja masjid, hatinya sedikitpun nggak ‘terbakar’ untuk melakukan hal yang sama. Aneh ya? Ya, bener-bener heran.

Bro, padahal dengan rajinnya kita ibadah kepadaNya dan menjadi takwa itulah yanga akan membuat diri kita spesial dan bukan manusia biasa di hadapan Allah Swt. langsung, bukan cuma di hadapan manusia. Sebab, ketakwaanlah yang menjadi ukuran biasa dan bukan biasa. Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (QS al-Hujuraat [49]: 13)

Subhanallah, masa’ sih kita nggak mau jadi orang yang istimewa nan mulia, apalagi di hadapan Allah Swt.? Kebangetan kalo sampe kita ogah dapat sebutan orang-orang yang bertakwa. Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Barangsiapa belajar al-Quran maka ia akan agung di pandangan manusia. Barangsiapa yang belajar hadis akan kuat hujjahnya. Barang siapa yang belajar nahwu maka dia akan dicari. Barang siapa yang belajar bahasa Arab akan lembut tabiatnya. Barang siapa yang belajar ilmu hitung akan banyak fikirannya. Barang siapa belajar fiqih akan tinggi kedudukannya. Barang siapa yang tidak mampu menahan dirinya maka tidak bermanfaat ilmunya dan inti dari itu semua adalah takwa.” (pernyataan senada ada dalam kitab Kalam Hikmah Imam Syafi’i karya Shalih Ahmad asy-Syami)

Boyz and galz, kita harus bangga lho menjadi remaja yang bertakwa, karena ketakwaan kita kepada Allah akan membuat kita mulia di hadapanNya dan tentu bukan remaja biasa. Maklumlah menjadi takwa itu berat, harus belajar, harus menahan diri dari perbuatan dosa, harus taat kepada aturan Allah Swt. meskipun aturanNya membuat kita berat melakukannya. Intinya sih, yuk kita benahi diri kita dengan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Cara mudahnya adalah belajar. Belajar memahami Islam dengan benar dan baik. Buletin gaulislam insya Allah mau kok membantu kamu. Yuk, kita amalkan Islam secara utuh, yakni sebagai akidah dan syariat. Meski berat dan merasa terpaksa tapi kita harus tetap taat demi meraih derajat orang-orang yang bertakwa dan menjadi remaja luar biasa takwanya. Bukan lagi remaja biasa.

So, pada akhirnya kalo boleh memilih sih, “Lebih baik masuk surga secara terpaksa, daripada masuk neraka dengan kesadaran penuh”. Tul nggak sih?

Hidup tanpa cinta rasanya memang garing banget. Pokoknya bete deh. Sangat boleh jadi kehidupan ini dipenuhi oleh mereka-mereka yang berhati batu. Kejam, bengis, dan sejenisnya. Ibarat hidup di jaman Wild Wild West. Kill or be killed. Sadis!
Cinta, bisa tumbuh dan berkembang dalam sebuah kehidupan. Coba kamu perhatiin, ortu kita sayang banget kan sama kita? Kalo nggak sayang mah, kayaknya waktu kita bayi udah dibuang kali tuh. Heheh.. Tapi, alhamdulillah, ortu kita termasuk orang yang mampu memberikan cintanya kepada kita. Harapannya, agar kita bisa tumbuh, juga dengan memiliki rasa cinta.

Sobat muda muslim, cinta tumbuh di setiap makhluk yang bernyawa. Seperti sebuah lagu lawas berirama melayu yang syairnya kayak begini, �Rasa cinta pasti ada, pada makhluk yang bernyawa..../perasaan insan sama, ingin cinta dan dicinta..�
Yup, emang nggak ada tema yang abadi untuk dibahas selain masalah cinta. Tengok aja mulai dari lagu, puisi, prosa, sampai film didominasi masalah cinta. Wajar karena cinta adalah perasaan yang universal. Dimana-mana, di seluruh dunia, orang membutuhkan dan menginginkan cinta. Cinta ada pada orang tua yang cinta pada anak-anaknya, anak-anak yang cinta pada orang tuanya, adik dan kakak yang saling menyayangi seperti dalam film Children of Heaven, dan ehm, tentu saja cinta dirasakan oleh sepasang pria dan wanita.

Pendek kata dengan cinta kita bisa memberikan kesegaran dalam hidup seseorang. Kalo kamu ngasih uang seribu perak kepada mereka yang membutuhkan, itu artinya kamu telah menolong. Kalo bukan dengan rasa cinta, kayaknya nggak bakalan deh kamu tersentuh dengan penderitaannya. Itu sebabnya orang suka bilang bahwa cinta biasanya berbanding lurus dengan pengorbanan. Selalu seiring deh. Hehehe

Dengan cinta pula, kamu biasanya peduli dengan orang lain. Tegur sapa dengan sesama kita, boleh jadi adalah hal kecil untuk menumbuhkan semangat kebersamaan. Tentunya dalam ikatan cinta di antara kita sebagai manusia. Kita yakin kok, semua manusia itu butuh cinta dan dicintai. Itu sebabnya, peduli adalah salah satu cara untuk menumbuhkan rasa cinta. Masing-masing dari kita dalam pergaulan sehari-hari, ogah banget kalo cuma dianggap sebagai bilangan, tapi kita kepengen juga diperhitungkan. Tul nggak?

Tentang kepedulian dan cinta ini, kita bisa meneladani Abdullah bin Amir. Dengan harga sembilan puluh ribu dirham, beliau membeli rumah milik Khalid bin �Uqbah yang berada di dekat pasar. Pada malam harinya, Abdullah mendengar suara tangis keluarga Khalid. Ia pun bertanya, kepada salah satu pelayan rumahnya, �Mengapa mereka menangis?�
�Mereka menangis karena mereka harus meninggalkan rumah yang telah tuan beli siang tadi,�
jawab si pelayan.
Mendengar penjelasan itu, Abdullah bin Amir berkata, �Pelayan, katakan kepada mereka bahwa uang harga rumah yang telah mereka terima beserta rumah itu menjadi milik mereka semua.�

Subhanallah, Abdullah bin Amir bin Kuraiz tersebut, yang merupakan salah satu dermawan kota Baghdad telah memberikan teladan kepada kita, betapa rasa peduli dengan nasib sesama membuatnya rela mengeluarkan hartanya. Sikap yang amat jarang bisa kita temukan saat ini. Kepengen juga kayak beliau. Heheheh..

Memiliki cinta? Berbahagialah!

Bang Doel Soembang pernah nyanyi begini, �Cinta itu anugerah, maka berbahagialah. Sebab kita sengsara, bila tak punya cinta�. Nggak mengada-ngada tentunya. Cinta memang penuh makna. Dan bisa memberikan kesenangan kepada yang mendapatkannya. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkomentar tentang cinta, �Cinta itu bisa mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian yang rapi, makan yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shalih dan cobaan bagi ahli ibadah.� Memang benar tuh..Dan sangat benar..Hehehe

Sobat muda muslim, jangan salah bahwa cinta bisa berarti sangat luas. Nggak sebatas hubungan antara pria dan wanita saja. Seperti yang udah dijelaskan di awal tulisan ini. Cinta, bisa berarti hubungan antara anak dan ortu yang full kasih sayang. Bisa juga berarti saling mencintai dan menyayangi dengan teman, bisa juga saling menumbuhkan rasa cinta di antara saudara, dan lain sebagainya. Pokoknya luas deh, termasuk cinta kita kepada harta, jabatan, tempat tinggal, kendaaraan, dan yang utama cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah saw. bahkan memberikan teladan bagus kepada kita bagaimana mencintai orang lain dengan tidak pandang bulu. Siapa pun ia, Rasulullah memberikan perhatian, kepedulian, dan tentu cintanya. Ada kisah menarik yang bisa kita simak. Diriwayatkan Abu Hurairah (Nailul Awthar, 4: 90): �Ada seorang perempuan hitam yang pekerjaannya menyapu masjid. Pada suatu hari, Nabi saw. tidak menemukan perempuan itu. Nabi saw. menanyakan ihwalnya. Para sahabat mengatakan bahwa ia telah mati. Ketika Nabi menegur mereka kenapa tidak diberitahu, para sahabat mengatakan bahwa perempuan itu hanya orang kecil saja. Kata Nabi saw., �Tunjukkan aku kuburannya.� Di atas kuburan itu Nabi melakukan shalat untuknya.�

Subhanallahu, sungguh mulia sekali Nabi kita. Ia memberikan teladan yang amat bagus bagi hidup kita. Dalam kesehariannya, Rasul sangat menghormati para sahabatnya. Ambil contoh, suatu hari Abdullah al-Banjaliy tidak kebagian tempat duduk saat menghadiri majlis Rasulullah. Mengetahui hal itu, Rasul lalu mencopot gamisnya dan mempersilakan sahabatnya itu untuk duduk. Tapi Abdullah al-Banjaliy tidak mendudukinya, malah mencium baju Rasulullah dengan air mata yang berlinang, �Ya Rasulullah, semoga Allah memuliakanmu, sebagaimana Anda telah memuliakanku,� komentar Abdullah.
Hmm.. kira-kita kita begitu nggak sama teman kita? Kadang, di antara kita suka ada yang merasa sok sibuk mikirin ummat, sampe-sampe lupa untuk sekadar menyapa kepada teman kita, �Apa kabar?� Padahal, hal �sepele� itu bisa menumbuhkan kecintaan juga lho. Bener. Jangan dikira kagak ada efeknya. Pengaruhnya besar lho. Sebab, kepedulian akan menumbuhkan rasa cinta, dan itu bisa menjadi jalan bagi seseorang untuk bisa menikmati hidup dengan tenang dalam sebuah kebersamaan yang penuh kasih sayang. Nggak percaya? Cobalah kamu lakukan. Siapa tahu kepedulian kamu akan bisa membuat temanmu merasa bahagia. Ditanggung antimanyun deh. Heheheh...Suer.
Itu semua karena cinta sodara-sodara. Sungguh, berbahagialah orang yang memiliki cinta dan memberikannya kepada orang lain. Bahkan bila perlu korbankan segala yang kita miliki dan cintai. Sekali lagi, berbahagialah mereka yang memiliki cinta.
Prioritas cinta kita...

Adakalanya kita sulit menentukan pilihan, bahkan sekadar membuat urutan prioritas sekali pun. Bener, kita kadang bingung kalo disodorkan berbagai pilihan yang kudu diambil salah satu. Apalagi semua pilihan itu memikat. Rasanya sayang kalo sampe nggak diambil. Tapi, dalam kondisi tertentu kita dituntut untuk bisa menentukan prioritas cinta kita. Untuk apa dan kepada siapa. Siap kan?

Dari semua cinta yang kita miliki, pastikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menempati daftar utama dalam kehidupan kita. Yang lainnya; cinta harta, kendaraan, jabatan, status sosial, tempat tinggal, perusahaan, barang dagangan, bahkan cinta kita kepada keluarga, dan suami atau istri (bagi yang udah punya he..he..) harus rela untuk �dikesampingkan�. Allah Swt. berfirman:� �Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.� (at-Taubah [9]: 24)

Untuk masalah ini, Rasulullah pantas dan layak menjadi teladan kita. Maka jangan heran jika Aisyah ra. bercerita tentang Rasulullah saw. setelah didesak oleh Abdullah bin Umar. Apa yang diceritakan Ummul Mukminin?

Beliau menceritakan sepotong kisah bersama Rasulullah saw. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 1441): �Pada suatu malam, ketika dia tidur bersamaku dan kulitnya sudah bersentuhan dengan kulitku, dia berkata, �Ya, Aisyah, izinkan aku beribadah kepada Rabbku.� Aku berkata, �Aku sesungguhnya senang merapat denganmu, tetapi aku senang melihatmu beribadah kepada Rabbmu.�Dia bangkit mengambil gharaba air, lalu berwudhu. Ketika berdiri shalat, kudengar dia terisak-isak menangis. Kemudian dia duduk membaca al-Quran, juga sambil menangis sehingga air matanya membasahi janggutnya, ketika dia berbaring, air matanya mengalir lewat pipinya mambasahi bumi di bawahnya. Pada waktu fajar, Bilal datang dan masih melihat Nabi saw. menangis,�Mengapa Anda menangis, padahal Allah ampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang kemudian?� tanya Bilal. �Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur. Aku menangis karena malam tadi turun ayat Ali Imran 190-191. Celakalah orang yang membaca ayat ini dan tidak memikirkannya.�

Cinta tak pernah bosan untuk diobrolkan. Urusan cinta pun tak pupus oleh waktu, ia senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Asyik untuk dibahas, tak lelah untuk menuliskannya, dan getol untuk mendiskusikannya. Karena cinta memiliki keunikan dan sekaligus �keajaiban�.

Uniknya cinta bisa dilihat dan dirasakan dari berbagai sisi. Paling nggak neh, cerita tentang cinta yang berakhir bahagia sama nikmatnya dengan mendengar kisah duka karena cinta. Selain unik, cinta memang �ajaib�. Bisa mengobati rasa rindu, mampu melicinkan perasaan, dan juga menumbuhkan kreativitas yang tak pernah ada habisnya.

Nah, bicara tentang cinta, ada satu fenomena yang menarik dan perlu mendapat perhatian dari kita semua. Sepertinya sebagian besar dari kita selalu merasa �gatal� bahwa jika cinta tak diekspresikan dengan aktivitas mencintai, akan berakhir dengan kegelisahan. Itu sebabnya, jangan heran jika akhirnya banyak yang kabur dalam memaknai cinta. Banyak yang gelap mata, dan nggak sedikit yang miskin ilmu. Dikiranya mengekspresikan cinta, ternyata malah menggeber nafsu. Padahal, cinta tak sama dengan aktivitas mencintai. Tak berbanding lurus pula. Tapi kenapa harus dipaksakan untuk disamakan?

Guys , sejatinya cinta tetap bisa tumbuh dan terpelihara meski tak diekspresikan dengan aktivitas mencintai. Itu sebabnya pula, cinta tetap ada meski tanpa diwujudkan dengan pacaran. Karena cinta memang beda dengan pacaran. Buktinya banyak orang jatuh cinta, dan nggak sedikit yang memendamnya. Mereka cukup merasakan cinta di dalam hatinya. Entah karena tak kuasa mengatakannya kepada orang yang dicintainya, atau memang sengaja ingin memelihara dan merawatnya sampai pada suatu saat di mana kuncup itu menjadi mekar dan berbunga di taman hatinya (duilee...).

Dua alasan tadi tak perlu dipertentangkan. Karena yang terpenting adalah bahwa tanpa diekspresikan dalam aktivitas saling mencintai pun cinta tetap akan tumbuh di hati. Kenyataan ini pula yang mengukuhkan bahwa cinta tidak selalu sama dan tak sebangun dengan aktivitas mencintai. Jelas, ini mematahkan mitos selama ini yang meyakini bahwa jika jatuh cinta harus diwujudkan dengan aktivitas mencintai bernama pacaran. Ya, namanya juga mitos, bukan fakta, Bro . Lihat aja, mereka yang masih melajang sampe tua, bukan berarti tak memiliki rasa cinta. Mereka pasti memiliki cinta kok. Cuma karena cinta tak mesti dieskspresikan dengan aktivitas mencintai seperti pacaran atau juga pernikahan, ya tak membuatnya sakit tuh. Cuma mungkin gelisah aja karena nggak bisa berbagi cinta dengan seseorang yang bisa menyambut cintanya. Tapi tak membuatnya sakit.

Namun meski demikian, bukan berarti cinta tak boleh diekspresikan sama sekali dalam aktivitas mencintai. Nggak juga. Ini sekadar ngasih gambaran bahwa kita jangan keburu menyimpulkan bahwa pacaran adalah jalan pintas untuk mengekspresikan cinta. Nah, kalo pun harus diekspresikan dengan aktivitas saling mencintai, tentunya hanya wajib di jalan yang benar sesuai syariat. Tul nggak? Yup, hanya melalui ikatan pernikahanlah cinta kita bisa dan halal diekspresikan dengan kekasih kita. Begitu lho. Mohon dicatat dan diingat ya. Makasih. Hehehehe

Jatuh cinta nggak dilarang

Sobat muda muslim, jatuh cinta itu nggak dilarang kok.Hehehe Lagian, siapa yang bisa melarang orang lain untuk tidak jatuh cinta. Nggak bakalan bisa. Namun, jangan pula kemudian nganggep bahwa mentang-mentang jatuh cinta nggak dilarang, lalu mengekspresikannya dengan pacaran jadi sah-sah aja. Ah, kalo itu sih udah tulalit atuh. Beda euy , antara cinta dan aktivitas mengekspresikan cinta, Bro . Oke?

Oya, boleh tuh jatuh cinta meski nggak perlu orang yang kita cintai itu mencintai kita juga. Artinya, cinta tak selalu harus saling bersambut. Jadi, kalo kita jatuh cinta kepada seseorang, tak perlu orang tersebut juga mencintai kita. Namun, seringkali kita nggak siap untuk menerima �penolakan� dari orang yang kita cintai. Sakit. Bahkan bisa sakit banget kalo orang yang nolak dekat dengan kita. Kita setengah mati mencintainya, eh, dia malah setengah hidup menolaknya. Itu kan kagak nyetel namanya. Siapa yang gondok? Tentu saja dua-duanya. Lho kok? Iya. Pertama, orang yang mencintai merasa bertepuk sebelah tangan, dan tentunya kecewa begitu tahu rasa cintanya tak berbalas. Kedua, orang yang menolak juga kecewa, karena kok bisa-bisanya dicintai oleh orang yang tak dicintainya. (Wacks, jangan nyindir dong!)Hehehe

Jadi, kalo udah jatuh cinta, nikmati saja tanpa harus diekspresikan dengan pacaran. Caranya gimana? Ehm, ketika kita jatuh cinta, jangan keburu geer dan tergesa untuk ungkapkan cinta. Itu bisa berbahaya bagi yang belum bisa menerima beban kecewa. Emang sih perasaan cinta itu nggak bisa ditahan-tahan. Nggak bisa dihalangi dengan kekuatan apa saja. Bahkan adakalanya nggak bisa digeser-geser en dipindah-pindah ke lain hati (emangnya pot bunga, digeser-geser?). Maka jangan heran kalo kita ingin rasanya buru-buru menuntaskan rindu kita kepada seseorang yang membuat kita nggak nyenyak tidur siang-malam. Kita ingin agar perasaan kita benar-benar saling berbalas. Kita ingin jadikan ia sebagai dermaga tempat cinta kita berlabuh. Sampai tanpa sadar bahwa kita dikendalikan oleh cinta, bukan kita yang mengendalikannya.

Tapi saran saya, jangan keburu �geer� deh kalo tiba-tiba kamu punya rasa cinta kepada lawan jenis. Kenapa? Karena kalo kamu belum kuat menahan bebannya, bisa blunder. Kamu bisa sakit hati. Bayangin aja ketika kamu terlalu �geer� alias gede rasa, kamu nekatz menembak teman gadismu. Kita bisa dan siap ngincer lalu nembak lawan jenis kita. Tapi, seringkali di usia sepantaran kamu yang masih ABG dan �pensiunan� ABG sering nggak siap menerima kenyataan, gitu lho.Bener Ga??

Kok bisa? Hmm.. mungkin karena kurang pengalaman kali ye (atau bisa juga nggak pede), jadinya pas ditolak, teroris bertindak (idih, serem banget). Iya, saya pernah baca di koran bahwa ada seorang remaja laki yang cintanya ditolak gadis pujaannya, dan langsung bertindak dengan mengerahkan teman-temannya untuk meneror si gadis dan pacar pilihannya hingga ada korban jiwa. (hmm.. itu sih namanya cinta berbuah tahlilan!)

Jadi intinya, boleh saja jatuh cinta. Nggak ada yang larang kok kalo kamu jatuh hati. Wajar aja lagi. Tapi, mbok ya jangan keburu geer gitu lho, hingga menafsirkan kalo cinta harus diwujudkan dengan bersatunya dua hati, lalu tergesa ungkapkan cinta. Padahal, seringkali di antara kita yang masih bau kencur ini nggak siap dengan kenyataan. Dalam bayangannya, cinta itu harus bersatu, cinta itu harus saling memiliki, itu sebabnya mau tidak mau cinta itu harus berbalas. Padahal, banyak kasus berakhir dengan kecewa. Itu karena kita ngotot cinta sama si dia, sementara si dia juga ngotot nolak kita. Walah, itu namanya percintaan sepihak. Jadi, jangan cepet geer ya!

Sekarang saya mau tanya, memang kalo kamu suka sama seorang seleb, kamu cinta sama seorang seleb, dan kamu sayang sama dia, kudu juga berbalas? Nggak juga kok menurut saya. Kenapa? Begini, kamu yang cewek cinta nggak sama Nicholas Saputra? Senang banget kan kalo kebetulan ketemu dan diajak makan bareng? Wuih... tapi sejauh ini, pernah nggak melamunkan supaya dia jadi kekasihmu? Mungkin sebagian dengan pede dan gagah berani menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan ini, tapi sangat boleh jadi yang lain malah menjawab: Mimpi kali yeee! (ini tergantung bargaining position -nya sih)

Pendam saja dulu rasa itu

Waktu sekolah, saya juga punya rasa cinta kepada seorang gadis teman beda sekolah, saya sering main ke rumahnya, tapi karena saya tak berani mengungkapkannya, saya cukup jadikan ia sebagai �objek� kreativitas saya dalam puisi dan cerpen. Selama tiga tahun saya cuma memendamnya dalam hati rasa cinta kepada gadis beda sekolah itu. Saya hanya bisa cerita kepada teman saya dan si dia sendiri nggak pernah tahu kalo sedang �dicintai� sama saya. Ajaib memang. Di sini saya merasa mencintai tanpa bersalah dan enjoy aja lagi.Hehehe. Saya bisa menikmatinya dan menerjemahkannya dalam puisi. Ya, saya merasa bahagia saja dalam mencintai meski dia sama sekali nggak tahu.

Tapi.. setelah saya mulai nekatz mengungkapkan cinta, barulah muncul masalah. Salah satunya ya rasa bersalah di antara kami. Ternyata eh ternyata ia sama sekali tak mencintai saya, dan menganggap sekadar teman biasa. Rasanya langit bagai runtuh menimpa saya (kerena sudah terlanjur mencintai sepenuh hati. Kandas deh!). Ya, saya merasa bersalah karena saya begitu besar mencintai dia (padahal dulu asyik-asyik aja tuh saat belum diungkapkan perasaan cinta itu). Dia juga mungkin merasa bersalah karena telah begitu halus menolak cinta saya. (KLBK alias Kenangan Lama Bangkit Kembali neh. Gubrak!)heheh..Dan mungkin saat ini adalah kedua kalinya itu terjadi pada saya.

Jadi intinya, nikmati saja dulu cinta itu dengan diam-diam. Tunggu saatnya tiba. Saat di mana kita sanggup menahan beban dan siap ditelan kenyataan. Biarkan ia tumbuh subur dulu. Kalo pun kemudian harus kecewa, ya itu risiko. Tapi minimal, kita pernah mencintai seseorang yang bisa memekarkan kuncup di hati kita dan membuat kita jadi kreatif tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lagian bukankah Bang Ebiet pernah bersenandung, �Sebab cinta bukan mesti bersatu...� Ehm, pantesan seorang kenalan saya pernah bilang ke saya waktu curhat: �Cinta pertama saya bukan dengan calon istri saya, tapi saya masih inget sampe sekarang gimana perasaan saya waktu mencintai teman saya itu. Karena itu cinta pertama, tapi ternyata nggak jadi...� Nah lho!

Itu sebabnya, banyak orang sekadar �cinta sepihak� dan memendamnya dalam hati. Karena tak berniat untuk mengungkapkannya. Tapi ternyata aman-aman saja kok. Jelas, ia tidak merasa bersalah. Baik kepada dirinya maupun kepada orang lain. Mungkin ini tipe orang yang seperti digambarkan dalam lagunya Bang Ebiet G. Ade, �Apakah Ada Bedanya�: �Cinta yang kuberi sepenuh hatiku, entah yang kuterima aku tak peduli... aku tak peduli.. aku tak peduli� (Duile.. ini bukan putus asa apalagi patah arang, tapi sekadar mengungkapkan betapa masih ada orang yang sebenarnya ingin total mencintai dan tak peduli dengan balasannya dari orang yang dicintainya. Ini persepsi saya, dan saya ambil sebagian lirik saja dalam lagu itu. Karena saya yakin Bang Ebiet punya maksud lain dengan menuliskan lagu tersebut)

Sisi Buruk Dari pacaran (Pacaran yang merugikan>

Kamu pasti apal deh lagunya Peter Pan yang sebagian isi liriknya begini nih, �Apa yg kau lakukan di belakangku/Mengapa tak kau tunjukkan di hadapanku/ Apa yang kau lakukan di belakangku/ di belakangku/ di belakangku...� Yup, lagu ini judulnya adalah �Di Belakangku�. Apal kan?

Ehm, rasa-rasanya Ariel nyanyinya berdasarkan pengalaman tuh, mungkin sama seperti pengalaman banyak teman kita yang diterjemahkan dalam bentuk lagu. Pengalaman apa? Hmm... moga-moga saja bener nih. Yup, kayaknya pengalaman diselingkuhi sama pacarnya tuh. Wah, wah, inilah satu satu sisi gelap pacaran. Emang sih, yang udah nikah juga bisa selingkuh, tapi lebih rugi dan konyol lagi masih pacaran malah udah dikadalin sama pasangannya. Belum jadi suami-istri aja udah nggak bisa dipercaya, apalagi kalo udah menyatu dalam pernikahan? Pikir-pikir lagi ye.

Oya, loss pride alias hilang harga diri juga adalah dampak dari pacaran. Kok bisa? Yah, namanya juga pacaran, masih bisa sambung-putus sesukanya. Jadi, ketika bubaran, banyak yang �ember� cerita ke yang lain. Misalnya, �Kamu pacaran sama dia? Jangan mau, dulu pernah sama aku, dia kalo tidur ngiler!� Wacks?

Nah, soal pacaran cukup sampe di sini dulu ya, karena keterbatasan halaman dan kata-kata. Heheheh.

?Cinta bisa tumbuh meski tanpa pacaran.? Yakin itu. Oke?

Kecintaan terhadap lawan jenis merupakan fitrah yang ada pada setiap
manusia yang sempurna. Inilah hikmah diciptakannya manusia dengan
jenis yang berbeda, berupa laki-laki dan wanita.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa
yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak
dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan
sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah
tempat kembali yang baik (surga)”. (Q.S. Ali Imran: 14).

Namun kecintaan kepada lawan jenis, harus diletakkan pada tempatnya
sesuai aturan syari’at. Jika tidak, maka di sinilah manusia akan
hidup seperti binatang, bahkan lebih keji lagi. Cara dan tipsnya yang
syar’i, bina dan tumbuhkan cinta ini dalam rumah tangga melalui
gerbang nikah, bukan sebelum berumah tangga, karena ini terlarang
dalam agama kita.

Pembaca yang budiman, kecintaan terhadap lawan jenis inilah yang
menjadi alasan dua anak manusia terjerumus dalam perkara haram, hina
dan keji dengan menjalin hubungan, memadu kasih, mengukir kisah
asmara dan berjanji setia sehidup dan semati, atau lebih akrab
disebut dengan istilah “pacaran” !!!

Betapa banyak harta yang terbuang karenanya, betapa banyak manusia
menjadi gila karena ulahnya, betapa banyak kemaksiatan yang terjadi
karena melakukannya, dan jiwapun melayang disebabkan olehnya. Namun
sangat sedikit manusia yang mau mengambil pelajaran.

Lalu kenapa produk barat yang bermerek “pacaran” ini masih
menjadi “virus” yang menjangkiti hampir semua kalangan, mulai dari
Sekolah Dasar, SMP, SMA, sampai di bangku kuliahan. Mereka merasa
malu, bila masih sendiri alias belum punya pacar. Semua ini
disebabkan karena hawa nafsu yang sudah berkuasa pada diri seseorang,
kurangnya perhatian orang tua, dan jauhnya mereka dari agama.

Berbagai macam dalih dan beribu merek alasan yang sering dilontarkan
untuk menghalalkan produk haram ini. Yah, “alasanya mengikuti
perkembangan zaman”, “cara untuk mencari dan memilih pasangan hidup,
agar bisa saling mengenal karakter dan sifat masing-masing sebelum
menjalani bahtera kehidupan rumah tangga”. Ini adalah jerat-jerat
setan. Lalu sampai di mana kalian akan saling mengenal pasangan?
Apakah sampai harus melanggar batasan-batasan Allah !!? Ini adalah
pintu kebinasaan yang akan menghinakan dirimu.

=> Dalil Haramnya Pacaran

Allah -Azza wa Jalla- Yang Maha Penyayang kepada hamba-Nya telah
menutup segala celah yang bisa membinasakan hamba-Nya, di antaranya
adalah zina, dan segala pengantar menuju zina. Allah –Azza wa Jalla-
berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah
suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-
Isra’ : 32)

Allah telah melarang hamba-Nya untuk mendekati perzinaan, karena zina
itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.
Maka segala hal yang bisa mengantarkan kepada bentuk perzinaan telah
diharamkan pula oleh Allah. Sedangkanpacaran adalah sebesar-besar
perkara yang bisa mengantarkan ke pintu perzinaan !!! Data dan
realita telah membuktikan; tak perlu kita sebutkan satu-persatu kisah
buruk dan menjijikkan, dua insan yang dimabuk asmara.

Jika Allah dalam ayat ini mengharamkan pengantar menuju zina
(diantaranya pacaran), maka tentunya Allah mengharamkannya karena hal
itu akan menimbulkan mafsadah (kerusakan) di atas permukaan bumi,
seperti kerusakan nasab, harga diri, rumah tangga, dunia, dan
akhirat.

Para Pembaca yang budiman, Rasulullah -Shallallahu `alaihi wa sallam-
telah menjelaskan firman Allah di atas, kenapa Allah mengharamkan
pacaran? Jawabnya, berdasarkan hadits-hadits yang ada, bahwa pacaran
mengandung beberapa perkara maksiat lainnya; satu dengan lainnya
saling mengundang, seperti:

=> Memandang Lawan Jenis yang Bukan Mahram

Saling memandang antara satu dengan yang lainnya sudah menjadi
perkara yang lumrah bagi dua insan yang dimabuk cinta. Sementara
memandang lawan jenis bisa membangkitkan syahwat apalagi bila sang
wanita berpakaian ketat yang menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya. Oleh
karena itu “bohong” bila seorang laki-laki tidak tergiur dengan
penampilan wanita yang menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya, apa lagi
sang wanita tergila-gila kepadanya dan tiap hari berada di sisinya.
Sebenarnya sang laki-laki bejat tinggal menunggu waktu dan kesempatan
saja untuk bisa melampiaskan nafsu setannya. Setelah itu terjadilah
apa yang terjadi… naudzu billahi min dzalik.

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim menjaga matanya dari
memandang perkara-perkara yang diharamkan untuk dilihat. Allah -
Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka
menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya (dari hal yang
haram); yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada
wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
kemaluannya (dari yang haram)”. (QS. An-Nur: 30-31).

Jarir bin Abdillah -radhiyallahu `anhuma- berkata,

“Aku bertanya kepada Rasulallahi -Shollallahu `alaihi wasallam-
tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau
bersabda, “Palingkan pandanganmu” . [HR. Muslim (2159), Abu Dawud
(2148), At-Tirmidziy (2776)]

Memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang (bukan mahram),
meskipun tanpa syahwat, maka ia adalah zina mata. Rasulullah -
Shollallahu `alaihi wasallam- bersabda,

“Telah ditulis bagi setiap bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia
akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga
zinanya adalah mendengar, lidah (lisan) zinanya adalah berbicara,
tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah,
sementara qalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluanlah
yang membenarkan (merealisasikan) hal itu atau mendustakannya” . [HR.
Al-Bukhoriy (5889) dari Ibnu Abbas, dan Muslim (2657) dari Abu
Hurairah]

=> Saling Merayu, dan Menggoda dengan Suara Lembut

Lalu bagaimana lagi jika yang dilakukan bukan hanya sekedar
memandang, tapi juga dibumbui dengan cumbu rayu, berbalut suara yang
mengundang syahwat dan sejuta godaan dusta!! Allah -Subhanahu wa
Ta’ala- berfirman,

“Maka janganlah kamu tunduk (bersuara lembut) dalam berbicara
sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan
ucapkanlah perkataan yang baik”. (QS. Al-Ahzab:32) .

Al-Hafizh Ibnu Katsir-rahimahullah - berkata menafsirkan ayat
ini, “Maknanya hal ini, seorang wanita berbicara (di balik tirai dan
penghalang, -pent) dengan orang lain dengan ucapan yang di dalamnya
tak terdapat kemerduan suara, yakni seorang wanita tidak berbicara
dengan orang lain sebagaimana ia berbicara dengan suaminya (dengan
penuh kelembutan)” . [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Karim (3/636)]

Jadi, seorang lelaki atau wanita terlarang untuk saling menggoda,
merayu, dan bercumbu dengan ucapan-ucapan yang membuat salah satu
lawan jenis tergoda, dan terbuai sehingga pada gilirannya membuka
jalan menuju zina, baik itu zina kecil (seperti memandang, saling
memikirkan, dan lainnya), maupun zina besar !!

=> Menemui Wanita Tanpa Mahram, dan Tanpa Pembatas

Sehari bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sebulan, dan sebulan
bagaikan setahun bila sepasang anak manusia yang sedang dimabuk cinta
tidak bertemu. Ketika mereka bertemu, pastilah berduaan. Sang pria
berusaha sebisa mungkin menemui si wanita, tanpa ada mahram, dan
tanpa pembatas berupa tirai yang melindungi mereka dari pandangan
syahwat. Rasulullah -Shollallahu `alaihi wasallam- bersabda,

“Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita”. Seorang lelaki dari
kalangan Ashar berkata, “Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami?”
Maka Rasulullah -Shollallahu `alaihi wasallam- bersabda, “Mereka
adalah kematian (kebinasaan) “. [HR. Al-Bukhoriy (5232), Muslim
(2172), dan At-Tirmidziy (1171)]

=> Berduaan antara Pria dan Wanita

Lebih para lagi, jika pria dan wanita yang berpacaran ini saling
berduaan, karena setan sudah hampir berhasil menjerumuskan keduanya
dalam zina. Makanya, kasus zinanya orang yang berpacaran, itu terjadi
di saat mereka berduaan; saat mereka bebas mengungkap isi hatinya,
dan syahwatnya yang bergejolak kepada lawan jenisnya. Sebab itu,
kedua pasangan yang haram ini berusaha mencari tempat yang
tersembunyi, dan jauh dari jangkauan manusia; ada yang pergi ke
daerah wisata, tepi pantai; ada yang lebih elit
lagi sewa hotel, villa, dan lainnya. Untuk apa? Agar bebas berduaan
melampiaskan birahinya yang keji !!! Di lain sisi, sebagian wanita
tak sadar jika ia akan dihinakan dengan perbuatan itu, karena hanya
sekedar janji-janji muluk dan dusta. Sadarlah wahai kaum wanita, jika
seorang lelaki yang mengungkapkan cintanya kepadamu, tanpa melalui
pintu nikah, maka ketahuilah bahwa itu adalah “cinta palsu”,
dan “janji dusta”

Seorang dilarang berduaan dengan lawan jenisnya yang bukan mahramnya,
karena hal itu akan membuat setan lebih leluasa menggoda dan
menjerumuskan seseorang dalam zina, dan pengantarnya. Rasulllah -
Shollallahu `alaihi wasallam- bersabda:

“Jangan sekali-sekali salah seorang di antara kalian (kaum pria)
berduan dengan seorang wanita, karena setan adalah pihak ketiganya”.
[HR. At-Tirmidziy (2165), dan Ahmad (114). Hadits ini di-shohih-kan
oleh Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (6/215)]

=> Memegang dan Menyentuh Pacar

Pacaran tidaklah lepas dari bersentuhan, entah dengan cara berjabat
tangan, berboncengan di atas kendaraan, atau berpegangan, berpelukan,
berciuman dan lainnya. Ketahuilah bahwa memegang dan menyentuh wanita
yang bukan mahram kita adalah perbuatan yang diharamkan dalam agama
kita. Rasulullah -Shollallahu `alaihi wasallam- bersabda,

“Andaikan kepala seseorang di cerca dengan jarum besi, itu lebih baik
(ringan) baginya dibandingkan menyentuh seorang wanita yang tak halal
baginya”. [HR. Ar-Ruyaniy dalam Al-Musnad (227/2), dan Ath-Thobroniy
dalam Al-Kabir (486, & 487)]

Al-Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy-rahimahu llah-
berkata setelah menguatkan sanad hadits diatas dalam Ash-Shohihah
(1/1/448), “Dalam hadits ini terdapat ancaman yang keras bagi orang
yang menyentuh wanita yang tak halal baginya. Jadi, di dalamnya juga
ada dalil yang menunjukkan haramnya berjabat tangan dengan para
wanita (yang bukan mahram), karena berjabat tangan dicakup oleh
kata “menyentuh”, tanpa syak. Perkara seperti ini telah menimpa
kebanyakan kaum muslimin di zaman ini. (Namun sayang), di antara
mereka ada yang berilmu andaikan ia ingkari dalam hatinya, maka
masalahnya sedikit agak ringan. Cuman mereka ini berusaha
menghalalkannya dengan berbagai jalan, dan takwil. Telah sampai suatu
berita kepada kami bahwa ada seorang tokoh besar di Al-Azhar telah
disaksikan oleh sebagian orang sedang berjabat tangan dengan para
wanita !! Hanya kepada Allah tempat kita mengadu dari keterasingan
Islam”.

=> Nasihat bagi Orang Tua

Suatu perkara yang membuat kita sedih, orang tua tidak peduli lagi
dengan anak gadisnya ketika keluar rumah bersama laki-laki yang bukan
mahramnya. Keluar dengan berpakaian serba ketat, kemudian dibonceng,.
Tidak tahu kemana anak gadisnya dibawa pergi. Lalu terjadilah apa
yang terjadi. Si gadis terkadang pulang larut malam, namun orang tua
hanya membiarkan kemungkaran terjadi di dalam rumah tangga, dan
keluarganya. Inilah Dayyuts yang diharamkan baginya jannah (surga).
Nabi -Shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda,

“Ada tiga golongan yang sungguh Allah haramkan baginya surga: pecandu
khomer, orang yang durhaka (kepada orang tuanya), dan dayyuts yang
membiarkan perbuatan keji dalam keluarganya” . [HR. Ahmad dalam Al-
Musnad (2/69/no. 5372). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-
Albaniy dalam Shohih Al-Jami' (3047)]

Jika kita melirik ke arah yang lain, ternyata ada juga wanita yang
berbusana muslimah dan pria memakai gamis jatuh ke dalam jerat setan
ini. Mereka sebut dengan istilah “pacaran islami”. Tentunya ini
justru lebih berbahaya karena jalan menuju perzinaan yang telah
dibungkus dengan label “islami”. Padahal sungguh agama Islam yang
suci ini telah berlepas diri dari perbuatan ini.

Pacaran yang merupakan pos dan gerbang menuju zina ini, jika
dianggap “islami” -padahal itu haram berdasarkan ayat yang lalu-,
maka kami khawatirkan akan muncul generasi yang akan menghalalkan
perkara-perkara haram lainnya, karena dipoles dan dihiasi dengan
label “islami” sehingga mereka nantinya akan membuat istilah “musik
islami”, “khomer islami”, “mencuri islami”, “riba islami”, “judi
islami”, dan lain sebagainya. Padahal musik, khomer, mencuri, riba,
dan judi adalah perkara-perkara haram, namun dihalalkan oleh mereka
hanya karena permaiman kata yang licik. Na’udzu billah min dzalik !!

Akhirnya kami nashihatkan kepada kaum yang dilanda asmara agar segera
bertaubat kepada Allah sebelum nyawa meregang. Hentikan pacaran yang
akan menjatuhkan kalian dalam jurang kenistaan. Jagalah kehormatan
kalian yang suci dengan tameng ketaqwaan kepada Allah -Ta’ala- .




Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 67 Tahun II.

Jomblo. Satu kosakata yang sangat ditakuti oleh banyak orang saat ini terutama remaja. Why? Karena kosakata ini mengandung makna negatif yang bikin alergi. Suatu pertanda tidak lakunya seseorang untuk mendapatkan teman kencan dari lawan jenis. Idih…nggak laku? Emangnya jualan kolor?

Tapi asli kok, banyak banget remaja apalagi kalangan cewek yang merasa seperti kena kutukan kalo sampe predikat jomblo mereka sandang. Akhirnya dengan berbagai macam cara mereka berusaha untuk melepaskan kutukan ini meskipun dengan berbagai cara. Sudah nonton film 30 Hari Mencari Cinta? Di film itu kan menceritakan tiga orang remaja cewek yang sama-sama berada pada kondisi jomblo. Mereka membuat kesepakatan untuk mencari pacar dalam waktu 30 hari. Bagi yang menang, maka ia akan menjadi raja dan diperlakukan bak putri karena semua pekerjaan rumah akan dikerjakan oleh yang kalah.

Singkat cerita, mereka bertiga benar-benar fokus untuk mendapatkan pacar dalam rentang waktu itu. Karena ngebetnya, sampai-sampai harga diri pun sempat akan tergadaikan ketika sang pacar menginginkan making love alias berhubungan seksual layaknya suami-istri. Belum lagi ngebetnya salah satu tokoh di sana pingin merasakan nikmatnya ciuman bibir sampai melatih diri dengan guling. Naudzhubillah.

Belum lagi resiko bubarnya persahabatan yang mereka bina selama ini hanya karena cemburu dan khawatir pacarnya diembat sahabat sendiri. Meskipun ending-nya semua pacar-pacar karbitan itu pada bubar, tapi kita bisa melihat seberapa parah kondisi remaja kita saat ini terutama dalam pergaulannya.
So, ternyata predikat jomblo begitu menakutkan buat sebagian remaja yang miskin iman. Mereka lebih memilih jalan maksiat dengan pacaran daripada menyandang status ini. Meskipun seringkali dalam pacaran mereka juga merasa terpaksa. Bisa karena dipaksa teman, bisa karena dipaksa ortu, bisa juga dipaksa diri sendiri karena konsep diri yang salah. Jadi emang bisa banyak alasan.

Dipaksa teman terjadi bila teman satu genk pada punya cowok semua. Trus ada satu yang nganggur. Jadilah ada pemaksaan beramai-ramai supaya yang satu ini segera dapat gebetan. Udah deh, siapa aja boleh asal berstatus cowok. Waduh, gawat juga kan. Bisa-bisa sapi dipakein celana bisa diembat juga tuh saking nafsunya (hehehe…)
Ortu bisa jadi mengambil peranan dalam ajang kemaksiatan ini. Ada loh beberapa tipe ortu yang kelimpungan ketika anak gadisnya belum punya pacar. Padahal anaknya sendiri udah nyadar bahwa ini adalah ajang berlumur dosa. Eh, ortunya ngotot agar sih anak nyari pacar. Tulalit banget kan?

Atau bisa juga konsep diri remaja yang salah. Ia merasa merana tanpa punya pacar. Ia merasa jelek dan nggak laku ketika belum pernah merasakan rasanya pacaran. Ia akan jauh lebih bahagia bila ada cowok di sampingnya. Nah, ini adalah konsep yang salah dan menyesatkan.

Belum lagi dorongan media baik TV, radio ataupun majalah yang menawarkan gaya hidup bebas dengan label pacaran yang semakin gencar dilakukan. Udah deh, itu semua adalah banyak faktor yang bikin remaja ngebet untuk bisa pacaran. Padahal, apa sih yang didapat oleh pacaran, adalah perbuatan yang bisa kamu putuskan dengan sadar. Jadi, tulisan kali ini akan membantu kamu untuk membuat keputusan benar dalam hidup. Jangan sampai kamu melakukan perbuatan yang salah dan membuatmu menyesal kemudian. Lanjut!

Kenapa harus pacaran?
Hayo…bisa nggak kamu jawab pertanyaan ini? Kenapa harus pacaran? Hmm…mungkin di antara kamu ada yang menjawab:
‘biar nggak kuper’
‘biar nggak dibilang nggak laku’
‘biar ada cowok yang sayang sama kita’
‘biar ada semangat untuk belajar’
‘biar nggak malu dengan teman-teman yang pada punya pacar juga’
‘sekedar pingin tahu rasanya’
dll, masih banyak lagi alasan yang bisa kamu ajukan sebagai pembenaran. Oke deh, kita coba telaah satu per satu yah, masuk akal nggak sih alasan-alasan yang kamu punya itu.

Pacaran, adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua atau belajar bersama. Tapi alasan terakhir ini kayaknya banyak nggak jadi belajarnya deh karena pada sibuk mantengin gebetan masing-masing. Iya apa iya?

Kalo kamu sekedar takut dibilang kuper karena nggak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang sebenarnya orang paling kuper dan kupeng sedunia. Why? Karena saya yakin orang pacaran itu dunianya akan berkutat dari pengetahuan tentang doi aja. Coba kamu tanya apa dia tahu perkembangan teknologi terkini? Apa dia tahu di Palestina itu ada masalah apaan sih? Apa dia juga tahu kalo Amerika itu ternyata adalah teroris sejati?

Yakin deh, pasti mereka yang suka pacaran itu nggak bakalan tahu topik beginian. Kalo begitu, mereka itulah yang kuper dan kupeng. Paling tahunya cuma apa hobi sang pacar, apa wakna favoritnya, apa makanan kesukaannya, dll. Coba Tanya berapa nilai ulangan matematikanya, fasih nggak bahasa Inggris-nya, bagus nggak karangan bahasa Indonesia-nya, dan hal-hal seputar itu, pasti deh aktivis pacaran pada bloon untuk hal beginian. Kalo pun ada yang pintar, itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan pacaran sebagai semangat belajar.

Sebaliknya, pacaran adalah adalah ajang maksiat. Bukankah sudah dikatakan oleh Rasulullah saw., “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)

Waduh, emang kamu mau jadi temannya setan? Hiii, naudzubillah banget tuh.
Jangan beralasan kamu kuat iman, maka tetep aja ngeyel berdua-duaan. Banyak tuh kasus ngakunya aktivis rohis dan niatnya dakwah eh..malah kebablasan pacaran. Teman SMA saya dulu aja ada yang MBA alias Married By Accident alias lagi hamil di luar nikah karena pacaran. Udah sekolahnya nggak bisa lanjut karena perutnya semakin gendut, ia adalah pihak yang dirugikan. Tuh, si laki-laki yang menghamili bisa dengan enaknya melanjutkan sekolah sampe tuntas. Belum lagi beban dosa besar yang harus ia tanggung. Ingat, berzina adalah salah satu dosa besar yang hanya bisa ditebus dengan taubatan nasuha. Taubat yang sungguh-sungguh dan tak akan pernah mengulangi lagi. Bukan taubat jenis tomat, saat ini tobat, besok kumat. Duh, itu sih namanya main-main alias nggak serius dan mau berubah total. Nggak baik, Non!

Jomblo adalah pilihan
Kok bisa? Di saat teman-teman pada risih dengan status jomblo, masa’ sih malah bisa dijadikan status pilihan? Bisa aja, why not gitu loh? Lagian tergantung persepsi kan?
Kondisi jomblo adalah kondisi yang independen, mandiri. Di saat teman-teman cewek lain serasa nggak bisa hidup tanpa gebetan, kamu merasa sebaliknya. Nggak harus jadi cewek tuh aleman, manja, tergantung ke cowok, dan merasa lemah. Huh…jijay bajay banget. Jadi cewek kudu punya pendirian, nggak asal ikut-ikutan. Meskipun teman satu sekolah memilih pacaran sebagai jalan hidup, kamu tetap keukeuh dengan prinsip: “jomblo tapi sholihah”. Huhuy!

Dulu, waktu saya masih duduk manis di bangku SMP dan SMA, ada seorang teman yang ngebet banget pingin punya pacar. Sampe-sampe kalo ada kuis di majalah remaja tentang siap-enggaknya pacaran, doi termasuk yang rajin mengisi untuk tahu jawabannya. Ternyata doi tipe yang sudah siap banget. Akhirnya fokus perhatian dia hanya ke cita-cita pingin punya pacar dan pacar mulu. Prestasi sekolah jadi anjlok. Padahal ternyata nggak ada yang mau sama doi (backsound : Kacian banget!).

Nah, beda kasus dengan muslimah sholihah. Ada atau nggak ada yang mau, dia nggak bakal ambil pusing. Mikirin rumus fisika aja sudah cukup pusing, pake mikir hal lain. Maksudnya, mikirin pacar atau pacaran adalah sesuatu yang nggak penting bagi dirinya. Selain ngabisin waktu dan energi, yang pasti menguras konsentrasi dan emosi.

Kalo kamu jadi cewek sudah oke, baik di otaknya, kepribadiannya apalagi akhlaknya, jadi jomblo bukan sesuatu yang terpaksa tuh. Malah jomblo adalah sebuah kebanggaan. Kamu bisa tunjukkan kalo jomblo adalah harga diri. Menjadi jomblo bukan karena nggak ada yang mau, tapi kitanya yang emang nggak mau kok sama cowok-cowok anak kecil itu. Lho, kok?

Iya, cowok kalo beraninya cuma pacaran itu namanya masih cowok kecil. Masa’ masih kecil udah pacaran. Huh! Kalo cowok yang udah dewasa, pasti ia nggak berani pacaran, tapi langsung dating ke ortu si cewek dan ngelamar. Merit deh jadinya. Selain menunjukkan tanggung jawab, cowok dewasa tahu kalo pacaran cuma ajang tipu-tipu dan aktivitas berlumur dosa. Hayo…pada berani nggak cowok-cowok kecil itu?

Jomblo tapi sholihah
Jangan pernah takut diolok teman sebagai jomblo. Jangan pernah malu disebut nggak laku. Toh, mereka yang berpacaran saat ini belum tentu juga jadi nikah nantinya. Tul nggak? Malah yang banyak adalah putus di tengah jalan, patah hati terus bunuh diri. Hiii, naudzubillah. Atau bisa jadi karena takut dibilang jomblo malah dapat predikat MBA tanpa harus kuliah alias Married By Accident.

Lagipula, cewek kalo mau dipacarin kesannya adalah cewek gampangan. Gampang aja dibohongin, gampang diboncengin, gampang dijamah, dan gampang-gampang yang lain. Idih…nggak asyik banget! Toh, nantinya para cowok itu juga bakal males sama cewek beginian karena udah tahu ‘dalemannya’, mereka pinginnya dapat cewek baik-baik.

Terlepas apa motivasi mereka, yang pasti kamu kudu punya patokan atau standar tersendiri. Kamu nggak mau pacaran karena itu dosa. Kamu memilih jomblo karena itu berpahala dan jauh dari maksiat. Kamu nggak bakal ikut-ikutan pacaran karena takut dibilang jomblo dan nggak gaul. Kamu tetap keukeuh pada pendirian karena muslimah itu orang yang punya prinsip. Itu artinya, kamu selalu punya harga diri atas prinsip yang kamu pegang teguh. Iya nggak seh?

Karena banyak juga mereka yang meskipun sudah menutup aurat dengan kerudung gaul, masih enggan disebut jomblo. Jadilah mereka terlibat affair bernama pacaran sekadar untuk gaya-gayaan. Bener-benar nggak ada bedanya dengan mereka yang nggak pake kerudung. Malah parahnya, masyarakat akan antipati sama muslimah tipe ini.

Berkerudung tapi pacaran. Berkeredung tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berkerudung tapi sering berduaan sama cowok dan runtang-runtung nggak jelas juntrungannya. Padahal, kelakuannya yang model begitu itu bisa membuat jelek citra kerudung, imej Islam jadi rusak, dan tentunya doi bikin peluang orang lain untuk menilai dan memukul rata bahwa doi mewakili muslimah. Parah banget!

Intinya, predikat jomblo jauh lebih mulia kalo kamu menghindari pacaran karena takut dosa. Menjadi jomblo jauh lebih bermartabat kalo itu diniatkan menjauhi maksiat. Menjadi jomblo sama dengan sholihah kalo itu diniatkan karena Allah semata. Bukankah hidup ini cuma sementara saja? Jadi rugi banget kalo hidup sekali dan itu nggak dibikin berarti. Jadi kalo ada yang rese dengan kamu karena status jomblomu, katakan saja ‘jomblo tapi sholihah, so what gitu loh!’. Hidup jomblo!



Satu kisah cinta baru-baru ini keluar dari China dan langsung menyentuh seisi dunia.
Kisah ini adalah kisah seorang laki-laki dan seorang wanita yang lebih tua, yang melarikan
diri untuk hidup bersama dan saling mengasihi dalam kedamaian selama setengah abad

Laki-laki China berusia 70 tahun yang telah memahat 6000 anak tangga dengan tangannya
(hand carved) untuk isterinya yang berusia 80 tahun itu meninggal dunia di dalam goa yang
selama 50 tahun terakhir menjadi tempat tinggalnya.
50 tahun yang lalu, Liu Guojiang, pemuda 19 tahun, jatuh cinta pada seorang janda 29 tahun bernama
Xu Chaoqin ....

Seperti pada kisah Romeo dan Juliet karangan Shakespeare, teman-teman dan kerabat mereka mencela hubungan mereka karena perbedaan usia di antara mereka dan kenyataan bahwa Xu sudah punya beberapa anak....


Pada waktu itu tidak bisa diterima dan dianggap tidak bermoral bila seorang pemuda mencintai wanita yang lebih tua.....Untuk menghindari gossip murahaan dan celaan dari lingkungannya, pasangan ini memutuskan untuk melarikan diri dan tinggal di sebuah goa di Desa Jiangjin, di sebelah selatan Chong Qing.

Pada mulanya kehidupan mereka sangat menyedihkan karena tidak punya apa-apa, tidak ada listrik atau pun makanan. Mereka harus makan rumput-rumputan dan akar-akaran yang mereka temukan di gunung itu. Dan Liu membuat sebuah lampu minyak tanah untuk menerangi hidup mereka.
Xu selalu merasa bahwa ia telah mengikat Liu dan is berulang-kali bertanya,'Apakah kau menyesal?' Liu selalu menjawab, 'Selama kita rajin, kehidupan ini akan menjadi lebih baik'.
Setelah 2 tahun mereka tinggal di gunung itu, Liu mulai memahat anak-anak tangga agar isterimya dapat turun gunung dengan mudah. Dan ini berlangsung terus selama 50 tahun.
Setengah abad kemudian, di tahun 2001, sekelompok pengembara (adventurers) melakukan explorasi ke hutan itu. Mereka terheran-heran menemukan pasangan usia lanjut itu dan juga 6000 anak tangga yang telah dibuat Liu.
Liu Ming Sheng, satu dari 7 orang anak mereka mengatakan, 'Orang tuaku sangat saling mengasihi, mereka hidup menyendiri selama lebih dari 50 tahun dan tak pernah berpisah sehari pun. Selama itu ayah telah memahat 6000 anak tangga itu untuk menyukakan hati ibuku, walau pun ia tidak terlalu sering turun gunung.

Pasangan ini hidup dalam damai selama lebih dari 50 tahun. Suatu hari Liu yang sudah berusia 72 tahun pingsan ketika pulang dari ladangnya. Xu duduk dan berdoa bersama suaminya sampai Liu akhirnya meninggal dalam pelukannya. Karena sangat mencintai isterinya, genggaman Liu sangat sukar dilepaskan dari tangan Xu, isterinya

'Kau telah berjanji akan memeliharakanku dan akan terus bersamaku sampai akan meninggal, sekarang kau telah mendahuluikun, bagaimana akan dapat hidup tanpamu?'
Selama beberapa hari Xu terus-menerus mengulangi kalimat ini sambil meraba peti jenasah suaminya dan dengan air mata yang membasahi pipinya.
Pada tahun 2006 kisah ini menjadi salah satu dari 10 kisah cinta yang terkenal di China, yang dikumpulkan oleh majalah Chinese Women Weekly.

Pemerintah telah memutuskan untuk melestarikan 'anak tangga cinta' itu, dan tempat kediaman mereka telah dijadikan musium agar kisah cinta ini dapat hidup terus.

;;